Home / Naskah Lokal / Datuak Rangkayo Bosa, Datuak Ongku Bosa dan Datuak Bosa dalam Sumber Resmi Batu Tanyuh selama 120 tahun terakhir

Datuak Rangkayo Bosa, Datuak Ongku Bosa dan Datuak Bosa dalam Sumber Resmi Batu Tanyuh selama 120 tahun terakhir

Catatan singkat : Pelurusan kembali gelar sako Suku Guci Batu Tanyuh menurut adat setelah 18 tahun

 

Keterengan Foto: Salah satu literatur lokal Batu Tanyuh dari tahun 1918 dimasa pemerintahan Penghulu Kepala Koto Tengah Onderafdeeling Pajacoemboeh Afdeeling Lima Poeloeh Kota, Angku Mohd. Noer Dt. Bandaro Mangiang (Angku Palo Sungut) dimana salah satu kaum di Batu Tanyuh pada tahun itu mencatat bahwa salah satu watas ulayat mereka adalah dengan {RAMAH GOETJI B. TANJOEH ISTRI DARI DJAMIN KEMENAKAN DT. RANGKAJO BASA}

RAMAH (DARAMAH) maksudnya : Sepupu dari Tuo Mardenis Dt. Rangkayo Bosa Almarhum
PADOEKO DJAMIN maksudnya : Saudara Laki-Laki dari Tuo Anwar Dt. Mangguang Almarhum

Batu Tanyuh, Tahun 2004

Sewaktu sidang manaikkan kaompek suku Suku Guci Batu Tanyuh yang di bawah payuang kaum Dt. Rangkayo Bosa bertempat di kampuang Guci Dusun Batu Tanyuh terjadi perbedaan pendapat tentang bagaimana sebetulnya gelar sako suku Guci itu yang turun temurun. Pada saat sidang manaikkan kaompek suku tahun 2004, almarhum Saidu Sahar Dt. Indo Marajo Nan Bagariang Godang selaku wakil dari Niniak Mamak urang tigo kampuang yang mairik marantang panjang tentang soko kehadapan kaompek suku adalah Dt. Rangkayo Bosa. Akan tetapi pimpinan sidang berpendapat bahwa gelarnya yang benar adalah Dt. Ongku Bosa. Setelah timbang menimbang, sidang memutuskan dan menetapkan bahwa gelar yang akan dimasukkan ke dalam peti nan bagewang adalah Dt. Ongku Bosa.

Meskipun demikian, Dt. Rangkayo Bosa saat itu (Mardenis Almarhum) hanya menjawab “dek lamo ragu, dek banyak lupo” mengingat dan menimbang situasi beserta patut dengan mungkin. Almarhum beserta seluruh anak kemenakan dengan bulat tetap berpendirian bahwa gelar yang benar adalah Dt. Rangkayo Bosa bukan Dt. Ongku Bosa. Hal ini sesuai dengan “Tutua Nan Badonga, Warih Nan Bajawek, Pusako Nan Ditolong” dari nenek moyang sebagaimana kaidah adat “Biriak-biriak tobang ka somak, dari somak ka ilaman, maraok ka tanah bato, dari niniak turun ka mamak, dari mamak ka kamanakan, pusako lamo baitu juo” bahwa menurut nenek moyang yang mula-mula turun temurun menghuni rumah gadang yang dua di Batu Tanyuh hinggok mancakam tobang basitumpu dari tunggua panobangan yang bernama Tuo Junjuang (Almarhumah) yaitu berasal daripada kaum tuo suku guci yang 11 kaum di negeri Lasi Tuo Ampat Angkat Canduang daripada pihak kaum Dt. Rangkayo Basa Lasi Tuo, Guci Ateh di Lasi kadudukanya.

Baik di Batu Tanyuh maupun di Lasi Tuo sokonya sama karena digungguang dibao tobang seperti sifat membangun soko yang asal menurut Undang-Undang Adat Alam Minangkabau yaitu apabila soko dibangun karena sifatnya digungguang dibao tobang mula-mula maka soko yang dibawa pasti sama dengan negeri asal seperti tunggua panobanganya. Hal ini berbeda apabila sifat soko yang dibangun yaitu bungo bakarang atau yang lainya dimana pasti akan berbeda dengan negeri asalnya. Demikianlah sejak tahun 2004 terjadi perbedaan antara anak kemenakan tentang gelar soko kaum itu yang terus dipakai anak kemenakan adalah Datuak Rangkayo Bosa yang sesuai dengan ikatan sejarah dan hak asal usul nenek moyang yang diturunkan dari generasi ke generasi.

Batu Tanyuh, 19-23 Mei 2022

Mardenis Dt. Rangkayo Bosa yang menjunjung sako sejak 1971 setelah sebelumnya dipangku oleh Nurdin (Sejak 1923) (Alm), Hamid (Alm), Harun (Alm), H. Aboe Samah, Nindih (Alm), Murad (Alm) wafat pada tanggal 19 Mei 2022 pukul 23.30 malam ditanam ba’dha Jum’at 20 Mei 2022 dan diganti dalam 3 hari dengan Putra Fajar Dt. Rangkayo Bosa. Saat acara menyampaikan kepada kaompek suku Batu Tanyuh tanggal 23 Mei 2022 terjadi 3 perbedaan pendapat dimana anak kemenakan menyampaikan kepada sidang bahwa gelar soko yang akan diterima dan dipakaikan adalah Dt. Rangkayo Bosa sebagaimana catatan sejarah, hak asal usul dan wasiat dari Mardenis Dt. Rangkayo Bosa (Alm), sebagian sidang sesuai hasil manaikkan kaompek suku pada tahun 2004 adalah Dt. Ongku Bosa, sebagian berpendapat bahwa yang benar adalah Dt. Bosa (tanpa ujung dan pangkal).

Terjadinya perbedaan pendapat dimana sepanjang 20 tahun telah berganti soko kaum itu sebanyak dua kali yang mana hal ini telah mengurangi hak asal usul, catatan sejarah dan jati diri kaum. Hilangnya tutua nan badonga, warih nan bajawek sama dengan rusaknya adat dan lembaga kaum dan kehilangan hak asal usul adalah sesuatu yang tidak tertanggungkan berdasarkan kaidah adat oleh sebab itu sepanjang 2022 sampai dengan 2023 anak kemenakan Suku Guci Batu Tanyuh telah mengadakan sidang kaum sebanyak tiga kali dengan hasil mufakat bulat akan meluruskan persoalan ini menurut sepanjang adat yang berlaku dimana kemudian dilanjutkan sampai kepada sidang tigo kampuang dan selanjutnya sidang kaompek suku di Balai Adat Batu Tanyuh.

Sepanjang satu tahun setengah itu telah dikemukakan dasar-dasar hak asal usul berdasarkan amanat milik kaum (Ranji Kaum, Surat Kaum 1905 – 2023) dengan disamping itu diperkuat pula dengan dokumen dan literatur lokal Batu Tanyuh sejak 1918 – 2023 (9 dari 33) sebagaimana berikut  :

  1. Sebuah surat kaum dari tahun 1918 bertulisan watas dengan RAMAH SUKU GOETJI B. TANJOEH ISTRI DARI DJAMIN KEMENAKAN DT. RANGKAJO BASA
  2. Sebuah surat kaum dari tahun 1940 watas sabalah matahari hidoep dengan KAUM DT. RANGKAJO BASA
  3. Surat Perusahaan Listrik Sumatera Tengah tahun 1965/6 ditandatangani Noerdin Dt. Rangkajo Basa
  4. Sebuah surat tahun 1967 milik tuo rawi suku guci
  5. Sebuah surat ditandatangani Noerdin Dt. Rangkajo Basa tahun 1971
  6. Sejarah Akabiluru oleh Syamsudin Dt. Bagindo Simarajo Tambun Ijuk tahun 1981
  7. Asli surat wakaf SD Batu Tanyuah tahun 1981 oleh Almh Fatimah Ibrahim Suku Koto
  8. Sebuah surat dari 1983 ditandatangani Dt. Rangkayo Bosa, B. Dt. Tungkek, D. Dt. Paduko Rajo, A. Dt. Bagindo Ratuh Batu Tanyuh
  9. Asli Akta Pengganti Akta Ikrar Wakaf Masjid Arrahmah Batu Tanyuh tahun 1993 ditandatangani Alm. H. Anwar Dt. Mongguang, M. Dt. Rangkayo Bosa, S. Dt. Indo Marajo Nan Bagariang Godang

Sembilan dokumen ini beserta seluruh sisanya sebanyak 33 buah menyatakan dan tertulis dengan tegas bahwa suku guci Batu Tanyuh itu dalam ingatan dan catatan sejarah sepanjang 120 tahun terakhir ini tetap sebagaimana asalnya yaitu bersoko Kaum Dt. Rangkayo Bosa sehingga gelar Dt. Ongku Bosa maupun Dt. Bosa (tanpa pangkal dan ujung) tidaklah dapat diterima karena berbantahan bedasarkan bukti-bukti kaum dan bukti-bukti Nagari. Oleh karena itu sampailah akhirnya hingga kepada 30 Desember 2023 pada acara manaikkan kaompek suku Batu Tanyuh telah dikembalikan kepada asalnya dan menurut riwayatnya yang asli yaitu Dt. Rangkayo Bosa.

Alhamdulillahirabbil’alamin…

About minangheritage

Minangkabau Heritage adalah sebuah gerakan konservasi Warisan Budaya Minangkabau yang berangkat dari kesadaran akan perlunya portal open data dengan sumber terbuka yang bertemakan Kebudayaan Minangkabau. Proyek ini diselenggarakan secara gotong royong baik dari sisi teknis, penyuntingan naskah dan pelbagai kegiatan lainnya. Saat ini ada 3 Sub Tema besar yang sedang dikerjakan yaitu : Sejarah Minangkabau, Budaya Minangkabau, Warisan Minangkabau. Ingin berpartisipasi ? Silahkan kirim file, naskah, dokumen anda melalui menu yang tersedia atau kiri email beserta lampiranya ke [email protected]

Check Also

Kudeta Di Pagaruyung (1514- 1524), Peristiwa Tragis Yang Terlupakan

  Penyerbuan Dewang Parakrama Dari pihak dalam negeri, ketidaksenangan terhadap pemerintahan Maharaja Dewana dan Raja …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *