Home / Uncategorized / Tata Kelola Limbago Alam Minangkabo pada Hikayat Cindur Mato – Lyb-Arya-n Pusthaka

Tata Kelola Limbago Alam Minangkabo pada Hikayat Cindur Mato – Lyb-Arya-n Pusthaka

Minangkabau (Minangkabo), begitulah masyarakat sekarang (modern) menyebut salah satu identitas suku bangsa yang ada di Indonesia. Banyak hal yang ada pada suku bangsa ini yang belum terungkap, hal demikian dilatar belakangi atas sumber sumber sejarah barat yang terbatas dalam mendeskripsikannya. Kebanyakan sumber yang ada pada masyarakat lokal adalah berbentuk naskah bertulis arab dan berbahasa setempat, kadang Bahasa Melayu, kadang Bahasa Minang. Walaupun dalam kesepakatan liguistik mengatakan bahasa ini berasal dari rumpun yang sama, tidak berarti maksud dan arti pada masing masing kata tersebut berarti sama. Umumnya masyarakat Minangkabo menyebut bahwa manuskrip manuskrip yang ada disebut Tambo, sebenarnya kurang tepat dalam artikel saya yang berjudul Undang nan Sambilan Pucuk, Kato Pusako, Pakaian Dunia dan Akal dalam Bagian Tambo Radja Undang Undang Adat Limbaga telah di sebutkan fungsi takluk dari masing masing jenis manuskrip.

Pada artikel pendek ini, saya akan mencoba mengungkap informasi mengenai Rajo Tigo Selo yang kerap disebutkan dalam bidal adat ataupun pidato pidato adat yang ada dilingkungan masyarakat adat di Minangkabo, Sumatera Barat. Rajo Tigo Selo merupakan tiga jabatan setara raja yang memiliki tanggung jawab dan fungsi masing masing dalam Limbago minangkabo. Adapun 3 jabatan raja tersebut adalah Raja Adat, Raja Ibadat dan Raja Alam. Tiga Raja ini tersebar di tiga tempat, yakni Bawa, Sampu Kudus dan Pagar Ruyung. Penjelasan ini bisa didapat dalam Hikayat Cindur Mata yang disalin ulang oleh J. L. van der Toorn pada 1885/6 Masehi diterbitkan dalam Verhandelingen van het Bataviaach Genootschap tahun 1891 Deel XLV (45) . berikut beberapa kutipan informasi mengenai Rajo Tigo Selo;

Alih Aksara :

Kok dibahacoan sitambo lamo
dang Sabaris tidak hilang
kok satitiak barpantang lupa
didalam alam minang karbau
nan salaras batang bangkawas
saedaran gunuang barapi
tungku nan tigo sajarangan
rajo bartigo naik nobat
saurang rajo didalam bua
saurang rajo sampu kudus
saurang rajo pagaruyung
bagai tali di pilin tigo

Terjemahan :

Bila dibacakan Tambo Lama
yang sebaris tidak Hilang
Bila Setitik tdak Lupa
Di dalam Alam Minangkabo
Dan Selaras hulu sungai Bangkawas
Sekeliling Gunung Marapi
Tengku yang tiga sekali naik
Bertiga Raja Naik Nobat
Seorang Raja di dalam Bawa
Seorang Raja Sampu Kudus
Seorang Raja Sampu Kudus
Bagaikan Tali Berpilin Tiga

Pembukaan Wasiat Bundo Kandung kepada Dangtuanku Pagaruyung

Informasi di atas merupakan pengetahuan yang di berikan oleh Bundo Kanduang (Raja Parampuan) kepada Dangtuanku (anak) tentang struktur kelembagaan kerajaan pada masa sebelum suami dari Bundo Kanduang meninggal dunia. Bundo Kanduang menyampaikan bahwa di masa lalu terjadi pengangkatan 3 orang dalam menjalankan organisasi kerajaan dimana sektor adat serta lembaga pemerintahan dijalankan oleh Raja Adat, untuk Urusan Agama dijalankan oleh Raja Ibadat, sedangkan untuk menjatuhkan dan memberikan hukuman ada pada Raja Pagar Ruyung. Tiga orang Raja ini tidak bisa berjalan sendiri sendiri saling terikat akan fungsinya masing masing, tidak ada kepemimpinan tunggal pada masa itu, namun setiap keputusan sanksi dipegang oleh Raja Pagar Ruyung. Rincinya dapat dilihat dibawah ini;

Alih Aksara :

60; 61; 62:
Lorong rajo didalam Bua
Memegang Adat jan Limbago
memegang Taraju Tidak Kanai
itu Jabatan Rajo Buwa
kita namakan Rajo Adat

Terjemahan :

60; 61; 62:
Berkenaan dengan Raja di dalam Bua
Memegang Adat serta Lembaga
Memegang kepemimpinan tidak Sepenuhnya
itu jabatan Raja Bua
Kita namakan Raja Adat

Raja Buwa

Raja Bua adalah Raja yang menjalankan serta menyelenggarakan adat serta lembaga yang ada pada masa itu, akan tetapi bila berkenaan dengan urusan memutuskan hal hal apa yang berjalan pada adat dan lembaga, Raja Bua tidak memiliki kewenangan itulah yang dimaksud dengan taraju tidak kanai yang mana Raja Bua memegang kepemimpinan tidak sepenuhnya. Bua sekarang ini dikenal dengan penyebutan buo, apakah terjadi perubahan penyebutan atau memang seharusnya ditulis buo namun dalam hikayat cindur mato tertulis بوا (Ba Waw Alif). Buo terdapat pada daerah Kecamatan Lintau Buo Kabupaten Tanah Datar Keterangan mengenai Raja Bua ini terdapat pada baris 60, 61, dan 62.

Alih Aksara :

63:
Lorong di Rajo Sampu Kudus
ialah rajo nan di sanan
memegang hukum Kitab Allah
Mamagang qalam siang dan malam
Dang manjunjuang Titah Allah
Mengerjakan Suruah Nabi
Syar’a Karsi (?) Ibadat Baina (?)
Amal Ta’at Hukum Berdiri
Rajo Adil bukan kepalang
Itu jabatan Rajo nan tuan
sadang didalam sampu kudus
kito namakan Rajo Ibadat

Terjemahan :

63:
Berkenaan dengan Raja Sumpur Kudus
Ialah Raja dan di sana
Memegang Hukum Kitab Allah
Memegang perkataan Siang dan Malam
Yang menjunjung Perintah Allah
Mengerjakan Suruhan Nabi
Syar’a Karsi Ibadat Baina
Amal Ta’at Hukum Berdiri
Raja Adil bukan Tanggung
Itu jabatan Raja dan Tuan
Sedang di dalam Sumpur Kudus
Kita namakan Rajo Ibadat

Rajo sampu Kudus

Raja Sumpu Kudus (سمفو كود وس) adalah Raja yang berkedudukan di Sumpur Kudus sekarang merupakan kecamatan yang ada pada Kabupaten Sijunjung. Raja ini yang bertanggungjawab dalam hal menjalankan dan menjaga terselenggaranya kegiatan keagaaman pada masa itu, beliau sangat menguasai hukum hukum yang berkaitan dengan agama serta adil dalam memberikan keputusan, seluruh hal yang berkaitan dengan Agama siang dan malam adalah tanggungjawabnya. Keterangan mengenai Raja Sumpurkudus ini terdapat pada baris 62 dan 63.

Alih Aksara :

Lorong pado Nagari ko
nan barnamo Pagar ruyuang ko
iolah Bapak Naik Nubat
Mamagang jabatan mahukum kan
iyalah Rajo saAlamnyo
didalam alam minang karbau ko
lalu ka gunuang mahalintang
lalu ka riak nan bardabur
Ka Durian di Takuak Rajo
lalu pula kasanan
sihalang barlantak basi
ka siluluak punai mati
itu pegangan kita jua

Terjemahan :

Berkenaan dengan Negeri ini
dan Bernama Pagar Ruyung ini
Ialah Bapak yang naik sebagai Pimpinan
Memegang Jabatan Menghukumkan
Ialah Raja seAlamnya
di Dalam Alam Minangkabo ini
Lewat ke Gunung Malintang
Lewat ke Riak nan Bardabur
Ke Durian di Takuak Raja
lewat juga ke sana
Sialang Balantak Basi
ke Siluluak Punai Mati
itu Pegangan kita juga

Raja Pagar Ruyung (فكررويوڠ) merupakan Raja Alam di Minangkabo. Raja yang memutuskan hukum atas semua hal yang berkenaan dengan jalannya pemerintahan pada masa itu. Baik dalam Adat, Limbago serta Agama, apapun keputusan yang diambil adalah keputusan Raja Pagar Ruyung. Batas Batas Alam Minangkabo pada bagian ini juga diterangkan yakni Gunung Mahalintang, Riak dan Berdebur, Sihalang Berhentak Besi, dan Lumpur Punai Mati Merupakan daerah yang dikuasai oleh Raja Pagar Ruyung. Keterangan ini ada pada baris 63 dan 64.

Alih Aksara :

65:
Lorong di Basar Ampek Balai
Ampat Buah Nagarinya
Ampat orang akan basarnya
Bandaharo di Sungai Tarab
Tuan Kadi di Padang Gantiang
Tuan Manahkudum di Sumaniak
Tuan Panjang di Saruaso
nan Bagalar Datuak Pamuncak
inyo mamagang Biang Tabuak
inyo nan labiah susah payah
nan manjunjuang panitahan
nan di suruah siang malam
manjalani pasisiah alam nagari
mamintak adat tiap tiap nagari
amas manah tungkup bumbuang
hak danciang pangaluaran
ubur ubur gantang kamudi
pulangnyo pado kito juo
itu basar ampat balai

Terjemahan :

65:
Berkenaan dengan Pembesar di Empat Balai
Empat Buanh Negerinya
Empat orang akan Pembesarnya
Bendahara di Sungai Tarab
Tuan Qadi di Padang Gantiang
Tuan Manahkudum di Sumaniak
Tuan Panjang di Saruasa
dan Begelar Datuk Pamuncak
Dia memegang Pokok Pangkal Kerja
Dia dan lebih susah payah
dan Menjunjung Pemerintahan
dan di suruh Siang dan Malam
Menjalani Pesisir Alam Negeri
Memintak Adat tiap tiap Negeri
Emas Amanat untuk menutupi Pengeluaran
Hak Dencing Pengeluaran
Anggaran unuk menjalankan Pemerintahan
Pulangnya kepada Kita Juga
Itu Pembesar di Empat Balai

Basa Ampek Balai

Dalam naskah Hikayat Cindur Mato ini juga diuraikan mengenai Basar Ampek Balai (Pembesar di Empat Balai), yang tersebar di empat Negeri ada Bandaro (Bendahara) di sungai tarab sekarang merupakan Kecamatan pada Kabupaten Tanah Datar, ada Tuan Qadi di Padang Ganting sekarang merupakan Kecamatan di Kabupaten Tanah Datar, ada Tuan Manahkudum (Mangkudum) di Sumanik masuk dalam Kecamatan Salimpaung Kabupaten Tanah Datar, serta Tuan Panjang bergelar Datuk Pamuncak di Saruaso. Pada bagian ini keterangan tugas Pembesar Empat Balai di fokuskan kepada Tuan Panjang Datuk Pamuncak yang disebutkan dia bekerja siang dan malam untuk menjunjung dan mengerjakan pekerjaan pemerintahan, yang mana hal ini cukup berat dalam pelaksanaannya yakni mengumpulkan uang adat guna menopang jalannya pemerintahan Alam Minangkabo, dan yang mana berjalannya pemerintahan dan pemungutan uang itu untuk keberlangsungan bersama (Sosial Masyarakat) juga.

Kapak Rimbun Pagar Ruyung

Alih Aksara :

inyo nan gadang kito lambok

inyo nan tumbuah kito tanam

Maharaja lela tua pak kanduang

dalam alam Pasisiah nangko

jikok malenggang tak tarpapas

jikok tagak tidak tersandak

buliah mamakan sajuriang kuniang

jadi mamakai payuang gadang

bulaih mamakai lapiak lapiak surang

tapi paragiahan kita jua

sabagai pula anak kanduang

lorong pado saurang lai

tuan gadang di batipuah

orang baraja dihatinyo

orang barsutan dimananya

orang bar kawat ditulangnya

orang manampuah rusuak rusuak jalan

barkata tidak barasantahu

bartutur pantang ambil bawah

kita namakan tua pak kanduang

harimau koto piliang

tatapi pula anak kanduang

ulak alinyo kata nantun

jikok tumbuah silang salisiah

lorong di adat jan limbago

di dalam alam sacuriang nangko

pulang kapado bandaharo

di dalam nagari sungai tarab

jiko adatnyo tidak barturut

Terjemahan :

dia yang besar kita basahi

dia yang tumbuh kita tanam

Maharaja lela tua bapak kandung

dalam alam Pasisir ini

jika melenggang tidak terpapas

jika berdiri tidak tersandak

boleh memakan sajuriang kuniang

jadi memakai payung besar

boleh mamakai tikar tikar sendiri

tapi pemberian kita juga

sebagaimana juga anak kanduang

berkenaan dengan satu orang lagi

Tuan gadang di Batipuh

orang ber Raja dihatinya

orang ber Sutan di mana nya

orang ber kawat di Tulang nya

orang menempuah rusuk rusuk jalan

berkata tidak berasal tahu

bertutur pantang ambil bawah

kita namakan tua bapak kanduang

Harimau Koto Piliang

tetapi pula anak kanduang

bertolak balik kata itu

jika tumbuah silang salisiah

berkenan di adat serta limbago

di dalam alam yang kecil ini

kebali kepada bendahara

di dalam Nagari Sungai Tarab

jika adatnyo tidak berturut

Alih Aksara :

jikok hukumnyo sudah jatuah

satahil ganap sudah barjawab

hukum banar sudah tarbanding

habislah bicara bandahara

adat limbagoko tak barturut

barjalan datuak bandaharo

ka dalam buwa sampu kudus

jalanglah raja nan di sanan

dangan tartib majlisnya

jikok tak habis bicara tu

maka berjalan raja bua

rapat papat mangiringkan

manjalang bapak nan kamari

disiko bicara maka sudah

pulanglah pada kita jua

bak itu undang undangnya

sabagipula anakkanduang

lorong pado nan saurang lai

jikok tumbuah silang salisiah

barbantah alim jan pandito

lorong kapado kitab Allah

dibawa kitab saurang saurang

iya manjalang tuan qadi

ka dalam nagari padang gantiang

imek imeknyo lihat kitab basar

jikok tak habis bicara tu

maka berjalan tuan kadi

manjalang raja sampu kudus

Terjemahan :

Jika hukumnya sudah diputuskan

Setahil genap sudah berjawab

hukum kebenaran sudah berbanding

selesailah bendahara berbicara

adat limbaga ini tidak berturut

berjalan datuk bendahara

ke dalam Sumpur Kudus

mendatangi Raja yang di sana

dengan tertib Majlisnya

jika tidak selesai pembicaran itu

maka berjalan raja buwa

rapat papat mengiringkan

mendatangi bapak ke sini

di sini berbicara maka selesai

pulangnya pada kita juga

seperti itu undang undangnya

selain itu anak kandung

berkenaan dengan seorang lagi

jika tumbuh perselisihan

berbantahan alim dan pandita

berkenaan dengan kitab Allah

dibawa kitab masing masing

dengan mendatangi tuan Qadi

ke dalam Nagari Padang ganting

perlahan lahan lihat kitab besar

jika tidak selesai pembicaraan itu

maka berjalanlah tuan Qadi

Mendatangi Raja Sumpur Kudus

Alih Aksara :

Rapat papat samuhanya

Sagala imam dan khatib

mukadim nan ampat puluh ampat

mamintak hukum ka sampu kudus

jikok tak habis bicara tu

berjalan Raja Sampu Kudus

Manjalang Bapak nan kamari

disiko bicara maka ka sudah

pulangnyo pada bapak jua

bak itu tatah barisnyo

bak itu undang undangnyo

sabagaipula anak kanduang

jiko tumbuah silang salisiah

di dalam alam minangkarbau

jiko mangacak tuhuak parang

jikok kusut tidak salasai

jiko karuah tidak jarniah

pulang bicara di makhudum

dalam nagari dang sumaniak

imek imeknyo rundiang dibandiangkan

jikok lah habis bicara tu

maka barjalanlah makhudum

manjalang bapak nan kamari

rapat papat mangiriangkan

segala memegang bicara tu

dengan tertib majelisnya

jikok inyo sampai kamari

disiko bicara maka ka sudah

pulang pada bapak jua

Terjemahan :

rapat papat semuanya

segala imam dan khatib

Mukadim yang empat puluh empat

Memintak hukum ke Sumpur Kudus

Jika tidak selesai pembicaraan itu

Berjalan Raja Sumpur Kudus

Mendatangi bapak ke sini

disini bicara selesai

Pulangnya kepada bapak juga

seperti itu urutannya

Seperti itu undang Undangnya

selain itu anak kandung

jika tumbuh silang sangketa

di dalam Alam Minangkabo

Jika mengacak bertuhuk Perang

Jika kusut tidak selesai

Jika keruh tidak jernih

pulang bicara di makhudum

dalam Nagari Sumaniak

Perlahan lahan runding dibandingkannya

jika selesai habis bicara itu

maka berjalan Makhudum

mendatangi Bapak ke sini

rapat pepat mengiringkan

setiapnya memiliki hak suara

dengan tertib majelisnya

jika hal itu sampai ke sini

disini maka terselesaikan

kembali ke bapak juga

Alih Aksara :

baitu tatah barisnyo

bak itu undang undangnya

bapak bernama Hapar Basar

Pusat Jalo Pumpunan Ikan

di dalam Alam Minangkarbau ko

Terjemahan :

Begitu susun barisnya

Begitulah Undang Undangnya

Bapak bernama Hapar Besar

Pusat segala urusan dan keputusan

di dalam Alam Minangkabo


Source link

About minangheritage

Minangkabau Heritage adalah sebuah gerakan konservasi Warisan Budaya Minangkabau yang berangkat dari kesadaran akan perlunya portal open data dengan sumber terbuka yang bertemakan Kebudayaan Minangkabau. Proyek ini diselenggarakan secara gotong royong baik dari sisi teknis, penyuntingan naskah dan pelbagai kegiatan lainnya. Saat ini ada 3 Sub Tema besar yang sedang dikerjakan yaitu : Sejarah Minangkabau, Budaya Minangkabau, Warisan Minangkabau. Ingin berpartisipasi ? Silahkan kirim file, naskah, dokumen anda melalui menu yang tersedia atau kiri email beserta lampiranya ke [email protected]

Check Also

Nan Ampat Balas Sejarah Sebelum 1667 di Padang dan Pauh serta Bayang – Lyb-Arya-n Pusthaka

  Tambo mengenai Nan Ampat Balas atau Si Ampek Baleh, yang dikenal sebagai Niniak orang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *