Home / Uncategorized / KEKAISARAN MINANGKABO 1560-1680 MASEHI – Lyb-Arya-n Pusthaka

KEKAISARAN MINANGKABO 1560-1680 MASEHI – Lyb-Arya-n Pusthaka

Bungo Panco Matoari dan Rantak Malam

Latar Belakang

Kerajaan Minangkabo adalah kerajaan yang berada di Pesisir Barat Sumatera Barat berlokasi pada tempat yang bertoponim dengan nama Aur Duri (sekarang), saat ini menjadi bagian dari Kota Padang. Awal sejarahnya kerajaan ini dimulai sebelum kedatangan dan pengaruh yang dibawa Kesultanan Aceh dan VoC ke Minangkabo, pada tahun 1560 Masehi terbentuk sistim pemerintahan baru di Kota Padang yang waktu itu dikenal dengan Gurun.

Nama tempat Gurun ini dibawa berpindah dari daerah pegunungan ke Pesisir Barat Sumatera oleh rombongan Anak Raja Pagaruyung. Perpindahan dari area pegunungan ke pesisir pantai barat ini melewati beberapa lokasi. Menurut Safwan dkk halaman 6-7 (1987) perpindahan ini bergerak dari Kabupaten Tanah Datar (penyebutan sekarang) ke Banuhampu (sekarang bagian Kabupaten Agam) bergerak ke Panyinggahan (sekarang bagian Kabupaten Solok) dan turun ke Durian Mati/Kampung Durian (sekarang Kelurahan Parak Gadang, Kecamatan Padang Timur).

Hal demikian juga dipertegas oleh Naskah Tambo, Oendang Oendang, Adat, dan Limbago yang menjadi koleksi Ronkel (1870-1924) dengan code naskah or.12.82 disalin ulang oleh Sutan Abdul Majid Gagar Alam dan selesai penyalinannya pada tahun 1856. Dapat dibaca hasil transiliterasi pada bagian Tambo Padang Halaman 289-299;

Halaman 298

Tuanku dan segala penghulu memakai seperti fatub maka kaluarlah segala kabasaran gandang sarunai terkembanglah payung ibur ibur gandang dan sarunai serta alam wali yang kuning serta cindai pula kaluarlah pula tumbuk tumbuk kabasaran ampat dikiri ampat di kanan maka barsintaklah padang kiri kanan maka berbuni mariam tiga belas latus kemudian maka diminum kupi dan dimakan wadah (?) kemudian maka mintak hendak pulang segala panghulu itu kepada tempatnya masing masing kemudian maka hilirlah segala niniak mamak sekali lagi maka didirikanlah adat setahil sepaha tiap tiap nagari maka diambil oleh saudagar dibawak pulang dan setelah sudah diterima adat itu maka segala datuak itu mintak pulang ……. (?) dibahagi bahagilah uang adat itu oleh segala saudagar  kaluar kepada tuanku panghulu padang dua puluah rial dan kepada saudagar dua puluh rial pula pada panghulu limau manis lima rial labiah daripada

Halaman 299

Itu maka dibahagikan pada tiap tiap nagari dan setelah sudah itu maka uang nan dua puluh rial dibalikan kepada karbau disamblih ditengah gurun oleh tuanku panghulu maka segala isi nagari maka segala isi nagari menyambal nyambal tetapi urang yang tidak menyambal itu segala baragiahnya dalam nagari mambari rihas(rias?) dan paparan melainkan yang tiada menyambal segala imam dan khatib dan anak raja raja dan marah marah maka di perjamukan oleh tuanku panghulu akan segala niniak mamak itu semuhanya barsuka suka pada hari utlah adat nan tiga balas koto dalam padang tiada boleh di ubah ubah hiya dan pindah tuanku panglima memberi setahil sapaho akan membayar bawa niniak mamak lain dan tuanku bandaharo sapuluah riyal dan panghulu nan duabalas atas suku suku hatinya tiada berahad (?) dan bersekedar memberi kepada niniak mamak nan tiga balas koto itulah adat limbago rantau nan baradat radat nan barantau buliah juga

Dari halaman 298 dan 299 tersebut dapat diketahui seremoni tersebut adalah awal mula bagaimana urusan hubungan perdagangan dengan kumpani (baca VoC) di Padang dengan sosial masyarakat Tiga Belas koto yang diatur di Limbago Rantau Padang. Dalam 2 halaman itu disebutkan juga lapisan lapisan masyarakat yang ada, seperti; tuanku, panghulu, niniak mamak, datuak, saudagar, imam, khatib, anak raja raja, marah marah, bandaharo. Kedudukan masyarakat dapat dilihat berdasarkan penyebutan yang ada pada masing masing gelar tersebut. Seremoni tersebut terjadi antara tahun 1665 sampai 1667 sebelum VoC mendirikan Benteng di daerah Muaro Padang.

Dari tahun 1560 hingga tahun 1668 (108 tahun) daerah yang disebut Gurun berdasarkan tulisan Safwan dkk masih terdokumentasi dalam Naskah or.12.82. daerah Gurun adalah lokasi dalam seremoni membantai (menyembelih) kerbau yang selanjutnya dihadiahkan kepada kalangan lapisan masyarakat yang seperti disebutkan di atas, tentu lapisan masyarakat itu bukanlah kalangan biasa saja dalam struktur sosial pada masa itu. Lokasi Gurun tersebut memiliki hubungan kenapa saat sekarang kota disebut sebagai Padang (hamparan).

Struktur kelompok masyarakat

Menurut Safwan dkk dalam buku yang berjudul Sejarah Kota Padang itu disebutkan juga bahwa anak Raja Pagaruyung yang sampai di kampung durian membuat struktur pemerintahan baru di wilayah Pasisir Barat. Adapun bentuk pemerintahan Pada saat perpindahan pada tahun 1560 Masehi dari Gurun Pegunungan ke Pasisir Barat tersebut menurut Safwan dkk (1987 hal 12) awalnya terdiri atas 5 (lima) kelompok yang terdiri dari;

  1. Sutan Sangguno Dirajo : Orang Tuo Nagari Padang
  2. Datuk Gunung Padang: Pangulu Suku Tanjung
  3. Datuk Saripado Maharajo: Pangulu Suku Sumagek
  4. Datuk Mangkuto Dirajo : Pangulu Suku Mandaliko
  5. Datuk Sarimarajo : Pangulu Suku Malayu

Kelompok inilah yang pertama-tama masuk ke Pasisir barat dan menjalankan roda pemerintahan baru. Pada perkembangannya bertambah 4 (empat) kelompok lagi, menjadi 9 (sembilan) kelompok terdiri dari;

  1. Sutan Sangguno Dirajo : Orang Tuo Nagari Padang
  2. Datuk Gunung Padang: Pangulu Suku Tanjung
  3. Datuk Saripado Maharajo: Pangulu Suku Sumagek
  4. Datuk Mangkuto Dirajo : Pangulu Suku Mandaliko
  5. Datuk Sarimarajo : Pangulu Suku Malayu
  6. Datuak Radjo Marah: Pangulu Suku Malayu (penambahan)
  7. Datuak Bagindo Sakti: Pangulu Suku Jambak (penambahan)
  8. Datuak Lelo Dirajo : Pangulu Suku Jambak (penambahan)
  9. Datuak Paduko Amat: Pangulu Suku Panyalai (penambahan)

Pada tahun 1621 Masehi, diketahui bahwa Kesultanan Aceh telah masuk ke Minangkabau dan menempatkan Panglimanya yang bergelar Panglima Nando (Or. 12.82 Hal 269 dan 274). Pada naskah or. 12.82 hasil transilterasi halaman 269 dan 275 tertulis sebagai berikut:

Halaman 269

Niniak maharaja basar suku caniago mandaliko dari darat cinangkek ialah mancang malintih di kampuang binuang walainahnya (?) saparut hingga muaro padang mudiak dan saparhingga ikur anduriang padang hilir bermula tatkala itu belum lagi orang saurang juwa pun pada nagari ini melainkan rimbo samato mato hanyo didalamnya itu orang rupiah dan orang batiru kamudian daripada itu maka turunlah sagala niniak orang caniago yang lain daripada datanglah orang aces, adapun niniak itu tatkala turunnya dari darat dengan surat tambo niniak tatkala alhijrat nabi muhammad alaihi wasalam 1069 pada tahun hulanda 1621 pada masa itu lah orang aces duduak didalam nagari padang, adapun gelar ampanglima ialah ampanglima nandu tatkala dimana orang aces itu mahunikan nagari padang ampat puluah ampat tahun maka datanglah duduak

Halaman 274

Pasal ini pada menyatakan tatkala hijrah nabi muhammad alaihi wasalam 1029 dan pada alhijrah masehinya 1621 pada zaman ini orang aceh didalam padang ampang limo nando gelarnya dan pada tahun 1660. bab ini pada menyatakan bermula maka datanglah Saibak Kama Saripa Balatar Buruak (?) namanya dari batawi dengan keala dianya hendak Lalu ka aceh maka singgahlah dianya di nagari di padang maka diya Tinggalkannya satu pamannya nikuba kutar namanya dan satu koloniak Isba (?) namanya dan ampat urang mata rusa (?) di tiap tiapnya satu rumah Di nagari padang berjanji diyanya dengan panghulu nan salapan Itu mau berbuat karuang baragi ragi di nagari padang pada tahun 1661 datanglah sa tu ku ka ha ra jana pa kara ikan (?) namanya  Dengan kepala dari batawi maka orang aceh itu tiada mau Bercamur dengan orang padang holanda maka pergilah holanda

Dengan begitu pada 1621 Masehi Kelompok masyarakat di Padang menjadi bertambah dengan Masyarakat aceh, sehingga menjadi 10 (sepuluh) kelompok seperti berikut;

  1. Sutan Sangguno Dirajo : Orang Tuo Nagari Padang
  2. Datuk Gunung Padang: Pangulu Suku Tanjung (Pangulu Salapan)
  3. Datuk Saripado Maharajo: Pangulu Suku Sumagek (Pangulu Salapan)
  4. Datuk Mangkuto Dirajo : Pangulu Suku Mandaliko (Pangulu Salapan)
  5. Datuk Sarimarajo : Pangulu Suku Malayu (Pangulu Salapan)
  6. Datuak Radjo Marah: Pangulu Suku Malayu (penambahan) (Pangulu Salapan)
  7. Datuak Bagindo Sakti: Pangulu Suku Jambak (penambahan) (Pangulu Salapan)
  8. Datuak Lelo Dirajo : Pangulu Suku Jambak (penambahan) (Pangulu Salapan)
  9. Datuak Paduko Amat: Pangulu Suku Panyalai (penambahan) (Pangulu Salapan)
  10. Panglima Nando Aceh : Masyarakat Aceh

Pada tahun 1665 Masehi terjadi penyerangan Masyarakat Aceh oleh Nederlandsch Governtment (Pemerintah Belanda) berkedudukan di Batavia dengan mengatasnamakan Kompani (company) atau perusahaan dagang yang pada waktu itu sudah ada dan memiliki gedung dagang di Salido. Perusahaan dagang tersebut dikenal dengan Vereenigde Oostindische Compagnie (VoC). Hal itu terdokumentasi pada Naskah or. 12.82 Halaman 275 sebagai berikut;

Halaman 275

Oleh itu pindahnya dari nagari padang padang pada nagari salido berbuawat sebuah gadung pada tahun 1663, maka tiada katuju orang Aceh itu oleh orang padang maka dia taruh japut Kumpani Ulanda oleh panghulu nan salapan, yang menjaput itu datuak Rangkayo kacil serta ampat lima orang ka nagari salido, berbuat kantarnya (?) akan berbuat janji akan membuangkan orang aceh dari nagari Padang, maka pacahnya gaduangnya di salido ada tahun 1664, Maka diparbuatnya koto di pulau cingkuak oleh kompani ulanda Itu pada tahun 1665, maka pergilah kumpani belanda itu Di nagari padang menyerang orang aceh dan orang orang malayu menyerang Dari darat dan kumpani ulanda datang dari laut, maka larilah Orang aceh itu pada masanya itulah orang aceh menghunikan nagari Padang di kampuang binuang adapun yang dipelintah oleh orang..

Selain pada Naskah or.12.82 kejadian ini juga disebutkan oleh Habbema dalam Hasselt, A.L., Wijk, D. Gerth. (1885 hal 476) pada catatan kakinya mengenai kejadian penyerangan ini terjadi di Padang pada tahun 1666 Masehi. Habbema (1885 hal 473-478) menguraikan kejadian yang terjadi tersebut berasal transiliterasi Tambo Radja Periangan Kawin Kenegeri Atjes (Radja Pariangan Kawin Ke Negeri Aceh). Kronologi yang dikutip oleh Habbema berlokasi di Padang, salah satu kejadian yang ada adalah pengangkatan seorang Hampanglima (Panglima) Radja Minangkabo, toenkoe Bandahara dan Panghole (Pangulu/Panghulu) dua Belas, serta Saudagar dua belas. Valentijn (1726 Chapter Sumatra Hal 17) menuliskan informasi mengenai Panghulu tersebut terjadi penambahan 4 (empat) dari delapan panghulu yang ada, selain itu juga terdapat Panglima aceh dan panglima raja. Sehingga dapat dilihat perbandingan struktur kelompok masyarakat yang ada antara pada tahun sebelum 1666 dan setelah 1666 Masehi bertambahlah dan berubah, struktur dan kelompok masyarakat tersebut sebagai berikut;

Sebelum 1666 Masehi

  1. Radja Minangkabo
  2. Panglima Radjo: Masyarakat Batipuah
  3. Panglima Aceh: Masyarakat Aceh
  4. Datuk Maharaja Besar (Pangulu nan Dua Belas)
  5. Radja Gunung Padang (Pangulu nan Dua Belas)
  6. Radja di Hilir (Pangulu nan Dua Belas)
  7. Orang Kaya Sri Raja (Pangulu nan Dua Belas)
  8. Radja Bagagar (Pangulu nan Dua Belas)
  9. Radja Indra Bumi (Pangulu nan Dua Belas)
  10. Padoeka Magek (Pangulu nan Dua Belas)
  11. Radja di Padang (Pangulu nan Dua Belas)
  12. Dato Bendahara (Pangulu nan Dua Belas)
  13. Maharaja Lela (Pangulu nan Dua Belas)
  14. Datuak Tumangguang (Pangulu nan Dua Belas)
  15. Radja Indra Ganti (Pangulu nan Dua Belas)
  16. Saudagar Nan Dua Belas

Sesudah 1666 Masehi

  1. Radja Minangkabo
  2. Panglima Radjo: Masyarakat Batipuah
  3. Datuk Maharaja Besar (Pangulu nan Dua Belas)
  4. Radja Gunung Padang (Pangulu nan Dua Belas)
  5. Radja di Hilir (Pangulu nan Dua Belas)
  6. Orang Kaya Sri Raja (Pangulu nan Dua Belas)
  7. Radja Bagagar (Pangulu nan Dua Belas)
  8. Radja Indra Bumi (Pangulu nan Dua Belas)
  9. Padoeka Magek (Pangulu nan Dua Belas)
  10. Radja di Padang (Pangulu nan Dua Belas)
  11. Dato Bendahara (Pangulu nan Dua Belas)
  12. Maharaja Lela (Pangulu nan Dua Belas)
  13. Datuak Tumangguang (Pangulu nan Dua Belas)
  14. Radja Indra Gamti (Pangulu nan Dua Belas)
  15. Saudagar Nan Dua Belas
  16. Kompeni (VoC)

Perubahan yang terjadi antara sebelum dan sesudah tahun 1666 Masehi terlihat pada hilang dan bergantinya Panglima Aceh dengan VoC.

Adanya sistim pemerintahan tersebut tergambar pada naskah or.12.82. Sistim yang dibuat telah berjalan dan menjadi bagian dalam proses seremoni hubungan dagang antara tiga belas koto (Kubuang XIII) dengan VoC antara  tahun 1667-1668. Hingga pada tahun 1680 masa Kerajaan Minangkabo yang dikenal oleh Valentijn (1726) dikenal sebagai T Ryk van Maningcabo beribu kotakan di Kota Padang. Berbanding dari masing masing sumber tersebut ditambah dengan informasi Habbema dalam Hasselt, A.L., Wijk, D. Gerth. (1885) diketahui bahwa kedudukan atau tempat Radja berpindah pindah mulai dari Gurun pada tahun 1560 Masehi berpindah ke Gunung, turun kembali ke Padang pada 1666 Masehi dan Pindah menetap ke Saruaso setelah itu hingga tahun 1680 Masehi. Dalam laporannya, Valentyn (1726) menyebutkan kepemimpinan T Ryk van Minangkabo dipimpin oleh seorang Keyzar (Kaisar) pada zaman itu. Hal ini diperkuat dengan Laporan oleh Radermacher dalam Arrenberg en Allart (1787 hal 61) yang menyatakan adanya  Keizer Maningcabo yakni Keizer Alpha.

Narasi di atas, berguna sebagai pembanding dan mengisi kekosongan atas kronologi Sejarah Minangkabo antara 1560 hingga 1680. Meniadakan pandangan orang lain (penulis) dari berbagai tempat berbeda artinya sejarah yang ada untuk kepentingan tertentu adalah delusi semata. Ketika sebuah informasi terbuka akan berdampak dan memunculkan hasil yang berbeda, dan masyarakat tentu harus menerima apa adanya, lain hal bila ada sumber lain yang lebih akurat dan terdokumentasi.

Sarato Tapuang Pinang dan Cancang Air nan Tiado Putus dan Putiah Dipersaksikan kepada Malaikat Karoma ka Nabi Semuakan kepada Allah Ta’ala dan jikalau diubah ubah i kanai Biso Kawi Kutuak Mamakan Saribu Siang Saribu Malam dari Ikuah Koto lalu ka Koto serta Dipasumpahkan Anak Buah tiado Kambang Makanan Tiada Manjadi nan Salamo Hawan Putiah nan Salamo Gagak Hitam, Kanai Kutuak Niniak sarato Nenek Kami, Kaluargonyo Binaso.

Daftar Pustaka

Arenberg, Reyner., Allart, Johannes. (1787). Verhandelingen Van Het Bataviaasch Genootschap Der Kunsten En Wetenschappen. Radermacher, J.C.M. Beschryving Van Het Eiland Sumatra. Derde Deel. Rotterdam. Link: https://resolver.kb.nl/resolve?urn=dpo:1974:mpeg21:pdf (diakses pada 09 April 2021)

Hasselt, A.L., Wijk, D. Gerth. (1885) Taal-, Land- En Volkekunde Uit Gegeven Door Het Bataviaasch Genootschap Van Kunsten en Wetenschappen. Habbema. J. FRAGMENTEN UIT  EEN MALEISCH; HANDSCHRIFT. Deel XXX. Batavia-‘Hage. Albert & co, M. Nijhoff. Link: https://archive.org/details/tijdschriftvoor28unkngoog (diakses pada 14 April 2021)

Ronkel, Philippus Samuel van. 1870-1954. Collective volume with texts in Malay, Minangkabau, Arabic script (1-2) No. 61. Oendang oendang adat Lembaga : Tambo Minangkabau ; and other texts. or.12.82, Sutan Gagar Alam. 1856. Tambo Radjo, Oendang Oendang, Adat, Limbago. Sekolah Malayu. Solok-Padang. Link : https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/view/item/2314591?solr_nav%5Bid%5D=f062dff772fd25cf9cc3&solr_nav%5Bpage%5D=0&solr_nav%5Boffset%5D=0#page/1/mode/1up (diakses pada 7 april 2021)

Safwan dkk. 1987. Sejarah Kota Padang: Proyek Inventarisasi Dan Dokumentasi Sejarah Nasional. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jendral Kebudayaan. Jakarta. Link : http://repositori.kemdikbud.go.id/7522/1/SEJARAH%20KOTA%20PADANG.pdf (diakes pada 7 April 2021)

Valentyn, Francois. 1726. Keurlyke Beschriving van Choromandel, Pegu, Arrakan, Bengale, Mocha, Van ‘t Nedelandsch Comptoir in Persien; en eenige Fraaje Zaaken van PERSEPOLIS Overblyfzelen, Een nette Beschriving van Malaka, ‘t Nederlandsch Comptoir op ‘t Eiland SUMATRA, Mitsgader een wydlustige LANDBESCHRIVING van Eyland CEYLON, En een net Verhaal van des zels Keyzeren, en zaken, van ouds hier voorgevalen, als ook van ‘t Nederlandsch Comptoir op de Kust van MALABAR, en van onzen Handel in JAPAN, En eindelyk een Beschriving van KAAP DER GOEDE HOOPE En ‘t Eyland MAURITIUS, Met de Zaaken tot alle de voornoemde Ryken en Landen behoorende. Link: https://archive.org/details/oudennieuwoostin05vale (diakses pada 8 April 2021)


Source link

About minangheritage

Minangkabau Heritage adalah sebuah gerakan konservasi Warisan Budaya Minangkabau yang berangkat dari kesadaran akan perlunya portal open data dengan sumber terbuka yang bertemakan Kebudayaan Minangkabau. Proyek ini diselenggarakan secara gotong royong baik dari sisi teknis, penyuntingan naskah dan pelbagai kegiatan lainnya. Saat ini ada 3 Sub Tema besar yang sedang dikerjakan yaitu : Sejarah Minangkabau, Budaya Minangkabau, Warisan Minangkabau. Ingin berpartisipasi ? Silahkan kirim file, naskah, dokumen anda melalui menu yang tersedia atau kiri email beserta lampiranya ke [email protected]

Check Also

Interaksi, Pasar dan Perahu Masyarakat Minang Kota Padang dengan VoC pada abad 17-18 Masehi – Lyb-Arya-n Pusthaka

Cukup banyak buku yang menuliskan bahwa Kota Padang (Nagari) dimasa lalu merupakan salah satu kota …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *