Home / Uncategorized / Undang nan Sambilan Pucuk, Kato Pusako, Pakaian Dunia dan Akal dalam Bagian Tambo Radja Undang Undang Adat Limbaga – Lyb-Arya-n Pusthaka

Undang nan Sambilan Pucuk, Kato Pusako, Pakaian Dunia dan Akal dalam Bagian Tambo Radja Undang Undang Adat Limbaga – Lyb-Arya-n Pusthaka

Oendang Oendang Adat Limbago begitulah judul naskah dengan kode Or. 12.182 yang disalin oleh Sutan Gagar Alam di sekolah Malayu Solok dan saat sekarang fisiknya terdapat pada Perpustakaan Universitas Leyden itu. Saat sekarang naskah salinan tahun 1856 Masehi ini sudah dapat diakses sacara daring (Or. 12.182). Namun ada kendala dalam mengetahui isi naskah tersebut, seperti tidak adanya kemampuan untuk membaca, karena naskah menggunakan arab gundul dan bahasa lokal (setempat). Dalam hal ini saya akan mencoba sedikit berbagi isi yang dapat ditemukan pada bagian Kitab Tambo Radjo yang ada pada halaman 1 hingga 71 naskah, khususnya terdapat pada halaman 66 sampai 71. Disini saya akan menyoroti substansi mengenai Undang Undang yang terekam pada naskah yang merupakan hal yang perlu didalami dimasa mendatang.

Bagian dari Oendang Oendang Adat Limbago pada halaman 1 hingga 71 tersebut disebut sebagai Tambo Radja. Yang dijadikan perhatian pada artikel ini adalah apa yang terdapat pada Halaman 66 hingga 71 dalam Tambo Radja tersebut, karena mengandung informasi persebaran hukum, aturan, pakaian (kebiasaan) dunia dan akal manusia.

Dalam bagian ini terdapat jabaran mengenai Undang Undang nan Sambilan Pucuk yang disebut juga Undang Undang Alam, karena dipakai oleh banyak Negri pada zamannya. Undang Undang nan Sambilan Pucuk terdiri atas dua (2) hal; pertama Undang Undang nan Sambilan, kedua Pucuk, rincian mengenai Undang ini terdapat pada Halaman 66 dan 67 pada bagian Tambo Radja tersebut.

Untuk yang pertama Undang Undang nan Sambilan terbagi menjadi tiga (3) bagian yang tersebar ke beberapa Negeri yakni: 1/3 turun (digunakan) katangah (ke) Aceh, 1/3 turun (digunakan) di Minangkabau, 1/3 Turun-tinggal (digunakan diasal) di Rum serta Mekah dan Madinah.

Untuk yang kedua Pucuk satu (1) lima ratus (500) anaknya terbagi menjadi dua (2) bagian yakni: nan satu (1) kita (Minangkabau), nan lima ratus (500) Jatuh (menjadi hukum) ka Nagari Cina (sekarang Tiongkok). Jatuh (menjadi hukum) ka Nagari Bengala (sekarang Bangladesh) dipakai (digunakan juga); Inggris (Britania), Perancis (France), Ulanda (Netherland), Magrib (Afrika Timur ?). Jatuh (menjadi hukum) ka salatan (selatan). Jatuh (menjadi hukum) ka utara. Jatuh (menjadi hukum) kapada (kepada) tiap tiap pulau tangah laut salan (Ceylon/Samudra Hindia).

Pada Halaman 66 hingga 67 terdapat penjabaran seperti kalimat di atas. Hal hal demikian cukup menarik untuk diperhatikan karena Undang Undang nan Sambilan Pucuk tersebut tidak saja digunakan oleh Masyarakat lokal (setempat) Minangkabau saja, namun memiliki relasi dengan wilayah wilayah belahan bumi yang lainnya atau semata-mata klaim saja?.

Selain penjabaran dari persebaran Undang Undang juga terdapat Kata Orang Tua Tua (amanah/wasiat) pada masa dahulu (Kato Pusako) yang menjadi pegangan (hukum/aturan) takluk pada halaman 67 hingga 69, yakni:

  1. Tambo: Takluk undang undang itu kepada Radja
  2. Pituah: Takluk undang undang itu kepada alim
  3. Pusako: Takluk undang undang itu kepada urang banyak
  4. Cupak Gantang: Takluk undang undang pada panyalasaikan isi alam
  5. Cupak nan Tiada Panuah: Takluk kepada parampuan
  6. Adat Limbago: Takluk undang undang kepada urang kayo dan urang mulia mulia dan urang basar basar
  7. Permainan dan Pakaian: Takluk undang undang kepada urang muda muda dan kanak-kanak
  8. Tingga Turun: Takluk udang undang kepada rumah
  9. Bandar Buat: Takluk undang undang kepada Sawah Gadang
  10. Cahaya Nagari: Takluk undang undang kepada alat Jama
  11. Parit Pagar: Takluk Undang undang kepada parang palantu (?) segala dunia
  12. Manyarah: Takluk undang undang kepada Dubalang
  13. Banang Bulang : Takluk undang undang kepada Juara
  14. Bungkal Taraju nan Batuah : Takluk undang undang itu kepada saudagar
  15. Pahat Baliung: Takluk undang undang kepada tukang parkakas dan balabas
  16. Gunguang Tali nan Tiada Putus : Takluk undang undang Gala Urang
  17. Pakaran: Takluk undang undang itu kepada urang barhuni bartanam
  18. Lambang Parisai: Takluk undang undang itu kepada jikok ka-lahia dalam Nagari
  19. Gigih : Takluk kepada undang undang itu kepada urang pandai manyuruah kalam bilah
  20. Cahayo Bendang dalam Nagari : Takluk undang undang ini kepada pakiah dan alim dan maulana
  21. Hamba Allah: Takluk undang undang itu kepada ka’bah Allah tampat sujud
  22. Tukang: Takluk undang undang itu kepada urang pandai manyudahi
  23. Ubah Tilab: Takluk undang undang itu kepada Urang Pandai
  24. Ujuang Lidah isi Nagari: Takluk undang itu urang pandai berkata kata
  25. Bijaksana: Takluk undang undang itu kepada urang berbicara serta tahu mengatakan berita Ragan Tinggi dan Randah
  26. Padang Jangkuah Balabas: Takluk undang undang itu kepada Urang Urang Mancak
  27. Gandang Sarunai Talimpong: Takluk undang undang itu kepada urang bar-arak bar-iriang

Istilah istilah yang ada pada halaman 67 hingga 69 di atas masih sering ditemukan dalam kegiatan kegiatan adat masyarakat Minangkabau, khususnya dalam prosesi Pidato Adat baik yang digunakan dalam prosesi kemalangan ataupun perhelatan.

Selanjutnya pada halaman 70 hingga 71 terdapat beberapa hal yang berkaitan dengan Pakaian Dunia, Perkara Akal dan Perjalan Akal, yakni:

Segala Pakaian Dunia:

  1. Bajak Pakan: Takluk undang undang pada Kerbau-Jawi (Sapi) .
  2. Parmainan Alam: Takluk undang undang itu kepada Ayam-Buruang
  3. Genta Pelana: Takluk undang undang itu kepada kuda  

Undang Undang akal itu tiga perkara:

  1. Memeliharakan nyawa daripada bunuh
  2. Memeliharakan tubuh daripada minum dan makan yang diharamkan Allah Ta’ala  dan rasulnya
  3. Memeliharakan adat dari binasa dan teraniaya islam oleh kapiah

Perjalanan akal itu tujuh perkara:

  1. mengatakan Berita dan Ragan (?)
  2. mengatakan Tinggi dan Rendah
  3. mengatakan Laba dan Rugi
  4. Manganti Jahat dan Baik
  5. Manganti Hina dan Mulia
  6. Manganti karang sahari-hari datang Rugi dan Laba
  7. Manganti salinan pakaian kain pada tubuhnya

Sekilas, pemahaman akan tambo yang diketahui secara umum, akan bertolak belakang dengan apa yang dapat diketahui dari dalam tambo itu sendiri. Kenapa Tambo berisikan substansi hukum-hukum serta aturan sosial di Masyarakat Minangkabau?. Apakah Bagian Tambo Radja yang ada pada Oendang Oendang Adat Limbago tersebut perlu didalami lagi dengan memperhatikan, waktu tambo itu sendiri dikeluarkan. sebagaimana yang diketahui dari meta data yang dipublikasikan oleh Perpustakaan Leyden tersebut bahwa Oendang Oendang Adat Limbago tersebut merupakan salinan pada tahun 1856 Masehi, dan logisnya dokumen yang dijadikan sebagai sumber salinan tentu umurnya lebih awal daripada salinan!


Source link

About minangheritage

Minangkabau Heritage adalah sebuah gerakan konservasi Warisan Budaya Minangkabau yang berangkat dari kesadaran akan perlunya portal open data dengan sumber terbuka yang bertemakan Kebudayaan Minangkabau. Proyek ini diselenggarakan secara gotong royong baik dari sisi teknis, penyuntingan naskah dan pelbagai kegiatan lainnya. Saat ini ada 3 Sub Tema besar yang sedang dikerjakan yaitu : Sejarah Minangkabau, Budaya Minangkabau, Warisan Minangkabau. Ingin berpartisipasi ? Silahkan kirim file, naskah, dokumen anda melalui menu yang tersedia atau kiri email beserta lampiranya ke [email protected]

Check Also

Bunga, Kumbang dan Tunas.

Bungaku, Kumbangku, Tunasku ☺️ Bukan ayah tidak menyayangi kalian, Sungguh dalam hati ayah, ingin memeluk …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *