Home / Literatur / Sultan Nan Salapan 1636

Sultan Nan Salapan 1636

 

Berikut ini adalah salinan dari teks yang didapat dari Buku Adatrechtbundels: Bezorgd Door De Commisie Voor Het Adatrecht En Uitgegeven Door Het Koninklijk Instituut voor De Taal-, Land- En Volkenkunde van Nederlandsch Indie. XXXIII: Gemengd. ‘s-Gravenhage, Martinus Nijhoof. 1930 berada di Perpustakaan Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen/Lembaga Kebudayaan Indonesia/Museum Pusat/Museum Jakarta/Museum Nasional Indonesia

“Pada sanat tahoen 1053 Hijriah, inilah disalin pada hari Minggu tanggal 4 Bulan Januari 1636 Masehi. Pada saat itu mufakat segala radja radja, segala menteri menteri dan segala besar nan empat balai dan tuan gadang di Batipuah dan segala penghulu penghulu dan segala pegawai pegawai dan segala tuanku tuanku dan segala hulubalang dan rakyat sekalian. Menghadap daulat yang dipertuan segala orang. Nan tiga perkara: pertama luhak Tanah Data, kedua Luhak Limopoeloeh, ketiga Loehak Agam. Nan di Goedam di Balai Djangga akan melepaskan Sultan nan Salapan akan turun ke tepi laut pesisir Barat dan Timur, Utara dan Selatan. Sekalian Sultan nan salapan akan menjadi Radja di tepi laut dan tepi pulau emas ini, yang dimiliki oleh datuak Katumangguangan tatkala itu. Menaruh perbuatan sama radja radja yang tinggal didalam Negeri pagaruyung serta bersumpah setia selama lamanya air hilir, selama gagak hitam, selama Gunuang Barapi berdiri dari awalnya sampai akhirnya. Bersama-sama Radja dan penghulu, hulubalang, rakyat sekalian minum air keras. Sultan nan salapan, kala itu bertitahlah daulat yang dipertuan kepada Sultan nan Salapan, jikalau ado turun orang dari luhak Tanah Datar kepada pegangan Niniak Katumangguangan, Baik laki-laki atau Parampuan, Kalau Radja Sadaulat, Panghulu Saandiko, Orang Tua Saundang-Undang, Hulubalang Samo Samalu. Itulah perbuatan tatkala itu, jikalau di mungkiri daripada itu, habis dimakan biso kawi, ke atas indak bapucuak, ka bawah indak baurek, ditangah tangah di lariak kumbang. Maka mufakat Sultan nan Salapan akan membilang luhak, dapat jumlahnya, banyak nagari dalam luhak 677, Radja dan (Radja Dani di Padang Gantiang?) mula bilangan. Itulah yang tersurat di Batu Pagaruyuang Supaya terang, banyak Nagari yang ditinggalkan nan tiga.

Turun Sultan Nan salapan:

  1.  Aceh = Sultan saripado Kelimpahan dan Keadilan Banten dan Batawi,
  2. Palembang = Sultan Mahonjoek Kelimpahan dan Keadilannya Loeboek Bolang Potjoek Jambi sambilan Kota,
  3. Rambau Tambesi = Sultan Muhammad Amin Kelimpahan dan Keadilannya Rokan Kiri dan Rokan Kanan,
  4. Rao Mandaheling-Toba = Sultan Moehisjoddin Djajahannya berbalik ke Banoe Hampoe,,
  5. Banda nan Sapuluah = Sultan Berangas Kelimpahan dan Keadilannya Palembang Pelangi Bajang Bajang Moko-moko,
  6. Soengai Pagu = Sultan Gombak Kelimpahan dan Keadilannya Gunung Kerinci,
  7. Siak Indragiri = Sultan Panji Alam Kelimpahan dan Keadilannya Kualo Kampar,
  8. Rambau = Sultan Lenggang Alam Kelimpahan dan Keadilannya Nagari Johor dan Nagari Oejoeng,

Adapun yang turun itu Ujung Tanah Pagaruyung, itulah yang mengantar Upahan ke dalam Nagari Pagaruyuang dan tidak boleh tidak Datjing Pengeluaran Ubur-ubur Gantung Kemudi Sekoendi-sekoendai sekopang setali banyak. Tammat kalam.”

WhatsApp Image 2017-06-15 at 20.17.36
Sebaran Sultan nan Salapan pada tahun 1636 diolah oleh Muhammad Ikbal
Note:
  • Lokasi penempatan menurut catatan di atas berbahasa belanda; Aceh (DI Aceh), Banten, Batawi (Batavia/Jakarta), Palembang (Sumatra Selatan), Jambi, Tambusai (Riau Daratan), Rokan (Riau Daratan), Mandailiang-Toba (Tapanuli)
  • Wilayah kekuasaan menurut catata di atas berbahasa belanda Banuhampu, BAndar nan X (sepuluh), Bajang-bajang, Moko-moko, Sungai Pagu, Kerintji, Siak, Kampar, Djohor-Melaka/Malaysia?.
  • Belum dapat ditemukan relasi antara Lokasi penempatan dengan Wilayah kekuasaan.
  • 1053 A.H = 1643 Masehi.
  • ada 667 Nagari yang kosong akibat penyebaran Sultan nan Salapan ke Wilayah Pesisir Barat, Timur, Utara dan Selatan. 
  • tidak boleh tidak Datjing Pengeluaran Ubur-ubur Gantung Kemudi Sekoendi-sekoendai sekopang setali banyak (istilah adat)

SUMBER ARTIKEL DAPAT DIBACA DISINI

About minangheritage

Minangkabau Heritage adalah sebuah gerakan konservasi Warisan Budaya Minangkabau yang berangkat dari kesadaran akan perlunya portal open data dengan sumber terbuka yang bertemakan Kebudayaan Minangkabau. Proyek ini diselenggarakan secara gotong royong baik dari sisi teknis, penyuntingan naskah dan pelbagai kegiatan lainnya. Saat ini ada 3 Sub Tema besar yang sedang dikerjakan yaitu : Sejarah Minangkabau, Budaya Minangkabau, Warisan Minangkabau. Ingin berpartisipasi ? Silahkan kirim file, naskah, dokumen anda melalui menu yang tersedia atau kiri email beserta lampiranya ke [email protected]

Check Also

Undang-Undang Minangkabau Koleksi Perpustakaan Berlin I

Naskah yang ditampilkan oleh Minangkabau Heritage berikut adalah salah satu dari tiga Manuskrip Minangkabau yang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *