Home / Hipotesa dan Analisa / Kerajaan Koto Alang di Kuantan, Tempat Asal Pendiri Nagari Pariangan

Kerajaan Koto Alang di Kuantan, Tempat Asal Pendiri Nagari Pariangan

Situs Kerajaan Koto Alang ini telah sangat lama terlupakan. Hanya beberapa Tokoh adat yang tetap menjaganya. Walau dijaga, tetap saja tak lepas dari tangan jahil yang suka memperjual belikan Benda Cagar Budaya (BCB) yang terdapat di lokasi Situs Kerajaan Koto Alang ini. Pemerintah setempat nyaris tidak mengetahui keberadaannya (atau pura-pura tidak tahu). Hati terasa perih ketika Situs Kerajaan Koto Alang terabaikan begitu saja. Maka saya mencoba menelusurinya. Sobat netter mau tau cerita petualangan saya menelusuri Situs Kerajaan Koto Alang ini? Silakan lanjutkan baca cerita selengkapnya.

Penelusuran di Dusun Botuang

Saya menelusurinya bersama seorang teman dari Koran Kampus “Bahana Mahasiswa” Universitas Riau. Dari Pekanbaru menempuh perjalanan darat menuju Kota Taluk Kuantan ibu kota Kabupaten Kuantan Singingi (Kab. Kuansing), pada minggu ketiga dan hari ketiga di bulan Oktober 2008, ujan rintik-rintik menemani perjalanan kami. Tujuannya adalah Kecamatan Kuantan Mudik, disitulah terdapat Dusun Botuang di Desa Sangau.

Untuk mencapai Dusun Botuang ini dibutuhkan waktu sekitar setengah jam dari pusat Kota Taluk Kuantan, Situs Kerajaan Koto Alang itu berada disini, dinamakan Padang Candi karena diduga kuat disitu terdapat sebuah candi yang telah sangat lama tebenam. Untuk sampai kelokasi Padang Candi ini kami melewati sebuah sungai kecil bernama Sungai Salo dan dilintasi dengan jembatan gantung yang terbuat dari kayu, bagi orang yang tidak terbiasa melewatinya akan merasa gamang karena sewaktu dilewati ia bergoyang-goyang.

Kerajaan Koto AlangDusun Botuang ini banyak menyimpan Benda Cagar Budaya (BCB) yang sering ditemukan penduduk setempat secara tak sengaja, sewaktu menggali tanah untuk berkebun dan atau hanya sekedar menata halaman rumah, seperti perhiasan yang terbuat dari emas: cincin, kalung, gelang, juga jarum penjahit dan mata kail. Menurut cerita penduduk setempat, Herlita menceritakan awal temuan ini, ketika salah seorang penduduk bermimpi didatangi orang tak dikenal untuk menggali sebuah guci yang berisikan perhiasan, setelah digali ditempat yang ditunjukkan orang tak dikenal dalam mimpim itu. Namun sayang guci itu kembali membenamkan diri, karena “Sewaktu bermimpi guci itu minta didarahi dengan darah Kambing Hitam, karena sulit didapat diganti dengan darah Anjing Hitam, makanya dia kembali tenggelam kedalam tanah,” terang Herlita.

Hal ini dibenarkan oleh Rabu Jailani Kepala Dusun Botuang, “semenjak itu banyak masyarakat yang mengambil tanah disekitar bekas penggalian guci itu untuk didulang di Sungai Salo, dan menemukan emas, malahan ada yang telah berbentuk cincin, gelang, mata kail dan jarum penjahit, kejadiannya sekitar tahun tujuh puluhan,” kata Rabu Jailani. Karena suatu hal penggalian dibekas ditemukannya guci itu dihentikan atas kesepakatan tokoh-tokoh adat Kenegerian Koto Lubuk Jambi Gajah Tunggal.

Selain perhiasan yang terbuat dari emas yang paling sering ditemukan penduduk setempat adalah batu bata kuno, berukuran sekitar satu jengkal kali dua jengkal persegi—jengkal orang dewasa. “Kalau kita gali dengan kedalaman sekitar satu meter saja, kita bisa menemukan batu bata kuno ini masih tersusun rapi didalam tanah,” kata Rabu Jailani. Dari ditemukannya batu bata kuno tersebut banyak dilakukan penelitian-penelitian dan penggalian-penggalian. Pada tahun 1955 M pernah dilakukan penggalian dan menemukan Arca sebesar botol, dan Arca tersebut sampai sekarang tidak diketahui lagi keberadaannya.

”Dulu masyarakat setempat tidak mengenal nilai dari arca tersebut sebagai benda cagar budaya yang tak ternilai harganya sebagai situs suatu peradaban kuno, akhirnya masyarakat menjualnya,” ungkap Yasir Kepala Desa Sangau. ”Sangat disayangkan,” sesalnya. Pada penggalian terakhir yang diketahui pada tahun 2007 dilakukan oleh Badan Purbakala Batu Sangkar bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Propinsi Riau tanpa sepengatahuan Pemangku Adat dan Pemerintah Daerah.

Pada penggalian sebelumnya mereka menemukan mantra berbahasa sangskerta yang ditulis pada kepingan emas yang saat ini tidak diketahui keberadaannya. ”Kita kecolongan waktu itu,” terang Suhernita Kepala Seksi (Kasi) Pengkajian Sejarah dan Nilai-nilai Tradisional, Dinas Budaya Kesenian dan Pariwisata (Disbudsianipar) Kabupaten Kuantan Singingi (Kab. Kuansing), Suhernita menambahkan, adanya kekurangan Sumber Daya Manusia (SDM) dan saat ini Disbudsianipar Kab. Kuansing fokus pada pembangunan fisik, “Untuk tahun ini kita fokus pada pembangunan fisik untuk objek parawisata Air Terjun Guruh Gemurai yang ada di Desa Kasang, Kecamatan Kuantan Mudik,” terangnya.

Hal ini dibenarkan oleh Drs. Syafrinal, M.Si kepala Disbudsianipar, yang baru menjabat sekitar enam bulan yang lalu, “Banyaknya kelemahan yang kita alami dalam perawatan objek pariwisata dan situs-situs bersejarah sangatlah merugikan kita.” Ungkap Syafrinal sewaktu kami jumpai di ruang kerjanya Komplek Perkantoran Pemerintah Daerah (Pemda) Kab. Kuansing, Kamis (23/10) lalu.

Untuk mengantisipasi kejadian serupa, Syafrinal telah berusaha semaksimal mungkin, “Kita telah membentuk tim pengumpul data objek pariwisata dan situs sejarah disetiap kecamatan,” selain itu Syafrinal mengharapkan sumbangsi kita bersama, dan pihak swasta yang mau menanamkan modalnya untuk pengembangan objek pariwisata dan situs bersejarah yang ada di Kab. Kuansing. “Saya bangga dengan yang dilakukan pemuda saat ini yang merawat seni, budaya dan parawisata Kuansing melalui media internet, salah satunya sungaikuantan.com yang saya lihat serius dalam hal ini,” ungkap Syafrinal.

Kerajaan Koto Alang

Kerajaan Koto Alang apakah di Dusun Botuang?

Banyaknya ditemukan Benda Cagar Budaya (BCB) di Dusun Botuang, diduga kuat di sini berdiri kerajaan Hindu dengan nama Kerajaan Koto Alang, walau belum ada penelitian secara ilmiah yang mengungkapkannya. Mahmud Sulaiman (68)—Bergelar Datuk Tomo, seorang tokoh adat Kenegerian Koto Lubuk Jambi Gajah Tunggal, adalah keturunan Raja Kerajaan Koto Alang. Padang Candi yang terdapat di Dusun Botuang ada dibawah pengawasannya sebagai tokoh adat.

Kalau ada orang atau peneliti yang ingin tahu cerita detail tentang Padang Candi maka masyarakat Dusun Botuang merekomendasikan Datuk Tomo kepada peneliti tersebut, “Kami disini tidak tahu banyak tentang sejarah Padang Candi, yang mengetahuinya ya yang mengawasi Padang Candi, yaitu Datuk Tomo,” terang Rabu Jailani Kepala Dusun Botuang. Hal ini di benarkan pula oleh Yasir Kepala Desa Sangau, “Kalau sejarah Padang Candi kami serahkan kepada tokoh adat yang berwenang terhadap Padang Candi, dia Datuk Tomo,” kata Yasir, “Semua perangkat desa tidak ada yang mengetahuinya secara detail,” tambah pria tamatan Sekolah Menengah Atas (SMA) ini, sewaktu kami temui di ruang kerjanya Kamis (23/10) lalu.

Sehingga kami penasaran dan langsung menelusurinya, lalu tim kami berkunjung kekediaman Datuk Tomo yang berada di Koto Lubuk Jambi Gajah Tunggal, dan ia menceritaka tentang Padang Candi kepada tim BM dari petikan Tambo Kenegerian Koto Lubuk Jambi Gajah Tunggal. Tambo tersebut telah hancur dimakan zaman, sekarang Datuk Tomo kembali berusaha membukukannya dari hasil ingatannya, dan dari hasil penelitian tim Penelusuran Kerajaan Kandis, di Kenegerian Koto Lubuk Jambi Gajah Tunggal.

Tim ini di koordinatori oleh Pebri Mahmud Al-Hamidi, beranggotakan Drs. H. Syafri Yoes, Triwan Hardi, SH., Agusrisal SR, Hardimansyah, Jhon Herizon Patra, Raja Bastian, SE., Drs. H. Mukhlis MR., MSi., Ikatan Keluarga Kuantan Mudik (IKKM) Pekanbaru, dan Himpunan Pelajar Mahasiswa Kuantan Mudik (HPMKM) Pekanbaru. Yang diarahkan oleh Penghulu Pucuk Kenagorian Koto Lubuk Jambi Gajah Tunggal (Mahmud Sulaiman Dt. Tomo dan Syamsinar Dt. Rajo Suaro) beserta seluruh Pemangku Adat dalam Wilayah Kenagorian Koto Lubuk Jambi Gajah Tunggal. “Setelah bahan-bahan telah terkumpul semua dan dapat dipertanggung jawabkan akan segera diterbitkan dalam bentuk buku,” ucap Datuk Tomo.

Berdasarkan Tambo tersebut kerajaan Koto Alang adalah pengembangan dari Kerajaan Kandis, “Pada masa jayanya Kerajaan Kandis banyak terjadi perebutan kekuasaan dari orang-orang yang merasa mampu, mereka ingin merebut kekuasaan dan akhirnya memisahkan diri dari Kerajaan Kandis,” kata Datuk Tomo. Maka berdirilah Kerajan Koto Alang pada tahun ke 2 M, Rajanya bergelar Aur Kuning, ia mempunyai Patih (Wakil Raja) dan Temenggung (Penasehat Raja).

“Berdirinya Kerajaan Koto Alang maka terjadilah perebutan kekuasaan antar kerajaan,” Maka pada tahun 6 M Kerajaan Kandis menyerang Kerajaan Koto Alang. Dimenangkan Kerajaan Kandis. Raja Aur Kuning melarikan diri ke Jambi, ”Itulah asal usul nama Sungai Salo yang berarti Raja bukak selo—buka sila, di Dusun Botuang.” Karena tidak mau tunduk dibawah pemerintahan Kerajaan Kandis, Patih dan Temenggung melarikan diri ke arah Barat menuju Gunung Merapi (Sumatra Barat) dan mereka berganti nama, Patih menjadi Datuk Perpatih nan Sebatang dan Temenggung menjadi Datuk Ketemenggungan, ”Kedua tokoh inilah yang menjadi tokoh adat legendaris Minangkabau.” ungkap Datuk Tomo.

Peninggalan Raja Aur Kuning saat ini masi bisa ditemukan yaitu berupa Mustika Gajah sebesar bola pingpong, yang ditemukan Raja Aur Kuning didalam kepala Gajah Tunggal sewaktu Raja Aur Kuning mengalahkan Gajah Tunggal—karena mempunyai satu gading, dibunuh dengan menggunakan Lembing Sogar Jantan. ”Tempat Raja Aur Kuning membunuh Gajah Tunggal itu kini bernama Lopak Gajah Mati yang terdapat disebelah selatan Pasar Lubuk Jambi, Mustika Gajah dan Gading Tunggal, masih saya simpan, kecuali Gading Tunggal yang telah dijual salah seorang keluarga saya, ketika saya tidak berda dikampung pada tahun 1976, sangat disayangkan,” kata Datuk berjanggut ini. Sungai yang mengalir disamping Lopak Gajah Mati tersebut dinamakan dengan Batang Simujur, yang berarti mujur/beruntung membunuh gajah tersebut.

Prof. Suwardi. MS, seorang sejarawan Riau, pernah malakukan penelusuran dengan Datuk Tomo tentang Kerajaan Kandis dan Kerajaan Koto Alang, dan terhenti karena sesuatu hal, ”Kerajaan Kandis memang ada diceritakan sekilas didalam Kitab Negara Kertagama, Kerajaan Kandis itu berada di Rantau Kuantan, penelusuran ini terhenti dengan kendala SDM dan dana,” terang Suwardi. Sampai tulisan ini terbit belum ada pembenahan terhadap situs bersejarah yang terdapat di Dusun Botuang, Desa Sangau, Kec. Kuantan Mudik, Kab. Kuansing, Propinsi Riau tersebut.

Sumber:

http://www.sungaikuantan.com/2008/11/kerajaan-koto-alangdusun-botuang.html

About minangheritage

Minangkabau Heritage adalah sebuah gerakan konservasi Warisan Budaya Minangkabau yang berangkat dari kesadaran akan perlunya portal open data dengan sumber terbuka yang bertemakan Kebudayaan Minangkabau. Proyek ini diselenggarakan secara gotong royong baik dari sisi teknis, penyuntingan naskah dan pelbagai kegiatan lainnya. Saat ini ada 3 Sub Tema besar yang sedang dikerjakan yaitu : Sejarah Minangkabau, Budaya Minangkabau, Warisan Minangkabau. Ingin berpartisipasi ? Silahkan kirim file, naskah, dokumen anda melalui menu yang tersedia atau kiri email beserta lampiranya ke [email protected]

Check Also

Pauh: Nagari Angin

Tidak banyak informasi mengenai Pauh yang saat sekarang merupakan bagian wilayah kecamatan dari kota Padang. …

31 comments

  1. Jika ditilik uraian artikel ini, yang tidak mengkaitkan kolerasi dengan minangkabau, maka apakah kerajaan koto panjang masih ada relevansinya dengan mozaik sejarah minangkabau ?

    • Ada keterkaitannya pak, kebetulan belum saya bahas :

      Silahkan klik link

      http://mozaikminang.wordpress.com/2009/10/17/kerajaan-kandis-kerajaan-tertua-di-sumatera/

      Singkatnya :

      – Koto Alang adalah Kerajaan Sempalan Kerajaan Kandis
      – Koto Alang akhirnya diserbu oleh Kandis
      – Patih dan Temenggung Koto Alang lari ke Sumatera Barat (Gunung Marapi)
      – Mereka berganti nama jadi Datuak Parpatiah Nan Sabatang dan Datuak Katumanggungan

      • Quote
        “- Koto Alang adalah Kerajaan Sempalan Kerajaan Kandis
        – Koto Alang akhirnya diserbu oleh Kandis
        – Patih dan Temenggung Koto Alang lari ke Sumatera Barat (Gunung Marapi)
        – Mereka berganti nama jadi Datuak Parpatiah Nan Sabatang dan Datuak Katumanggungan ”

        saya ingin klarifikasi, mana yang mendekati kebenaran antara artikel saya di : http://bundokanduang.wordpress.com/2009/07/06/dua-orang-datuk-menurut-sejarah-dan-tambo/

        berdasarkan bahan bacaan dari :
        Buku Alam Takambang jadi Guru A.A NAfis yang mengutip tulisan : Asmaniar Idris (lihat “ kerajaan Minangkabau Pagaruyung dalam Seminar Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau tahun 1970 di Batusangkar, Asmaniar Z. Idris.

        Saya perlu penjelasan panjang lebar tentang soal ini, agar saya tidak keliru menulis sebuah artikel bagi generasi muda kita.
        Jika tidak keberatan An. Fadli dapat mengunjungi saya melalui email [email protected].
        Terima kasih

        Wassalam,

      • Prof. Suwardi. MS, seorang sejarawan Riau, pernah malakukan penelusuran dengan Datuk Tomo tentang Kerajaan Kandis dan Kerajaan Koto Alang, dan terhenti karena sesuatu hal, ”Kerajaan Kandis memang ada diceritakan sekilas didalam Kitab Negara Kertagama, Kerajaan Kandis itu berada di Rantau Kuantan, penelusuran ini terhenti dengan kendala SDM dan dana~
        ===================================================

        hahaha, saya tahu kenapa penelitian terhenti. karena cerita bapk tomo sudah banyak ngawur dan dirobah. setelah ditilik ke sumber sejarah majapahit Kitab Negara Kertagama, ternyata kemungkinan kerajaan koto alang dan kandis cuma kerajaan kacangan bawahan/wakil kerajaan besar dhamasraya (melayu tua). makanya tidak dilanjutkan karna percuma saja. mana ada istilah kekurangan dana bagi pemprov riau yg kaya minyak??? klu mengenai SDM mreka bisa sewa ahli lain toh????

        jd jgn ngawur ya dengan crita ini. saya lht diberbagai posting yg menyatakan kampar dan kuansing bukan minang banyak mengambil sumber disini. hati2 anda klu menulis. berapa orang yg telah sesat olh anda bro…

      • Prof. Suwardi. MS, seorang sejarawan Riau, pernah malakukan penelusuran dengan Datuk Tomo tentang Kerajaan Kandis dan Kerajaan Koto Alang, dan terhenti karena sesuatu hal, ”Kerajaan Kandis memang ada diceritakan sekilas didalam Kitab Negara Kertagama, Kerajaan Kandis itu berada di Rantau Kuantan, penelusuran ini terhenti dengan kendala SDM dan dana~
        ===================================================

        hahaha, saya tahu kenapa penelitian terhenti. karena cerita bapk tomo sudah banyak ngawur dan dirobah. setelah ditilik ke sumber sejarah majapahit Kitab Negara Kertagama, ternyata kemungkinan kerajaan koto alang dan kandis cuma kerajaan kacangan bawahan/wakil kerajaan besar dhamasraya (melayu tua). makanya tidak dilanjutkan karna percuma saja. mana ada istilah kekurangan dana bagi pemprov riau yg kaya minyak??? klu mengenai SDM mreka bisa sewa ahli lain toh????

        jd jgn ngawur ya dengan crita ini. saya lht diberbagai posting yg menyatakan kampar dan kuansing bukan minang banyak mengambil sumber disini. hati2 anda klu menulis. berapa orang yg telah sesat olh anda bro…

  2. wah.. postingan saya sampai kesini… trimaksih.. atas pnyeberan tulisan ini.. namun sumber sebenarnya bukanlah kuansing.go.id, tapi di http://www.sungaikuantan.com/2008/11/kerajaan-koto-alangdusun-botuang.html

  3. Terimakasih kembali atas kunjungannya, dan amat sangat terimakasih atas tulisannya 🙂

  4. Analisa Sejarah Terpusat dan Analisa Sejarah Tersebar : Jawaban untuk Ibu Hifni H. Nizhamul

    Menarik sekali ketika saya membaca postingan ibu di

    http://bundokanduang.wordpress.com/2009/07/06/dua-orang-datuk-menurut-sejarah-dan-tambo/

    Sebelum beranjak ke pembahasan izinkan saya mengemukakan sedikit tentang Analisa Sejarah Terpusat dan Analisa Sejarah Tersebar. Konsep ini adalah sub kajian dari sejarah politik mengenai cara pandang terhadap sumber sejarah.
    Singkatnya sbb (tafsiran sederhana saya):

    Analisa Sejarah Terpusat
    Diawali dengan menentukan sentral cerita dari suatu sumber berita yang akan dikaji (misal India Centris, Yunani-Kuno Centris, Tambo Centris, Alexander Agung Centris, Riau Centris, Jambi Centris, Kerinci Centris, Sriwijaya Centris, Majapahit Centris dan atau Melayu Centris).
    Analisa ini akan memusatkan setting cerita dan mengkompilasi sejarah dengan bukti-bukti yang bersesuaian dengan sentralnya, misal : sejarah majapahit, sejarah sriwijaya dll, dengan cara mencocok cocokkan tokoh-tokoh cerita. Dalam kasus Minangkabau, jika dipakai Majapahit Centris maka kita akan menemukan tokoh Dara Jingga, Dara Petak, Adityawarman, Gadjah Mada, Dewa Tuhan Perpatih dan seterusnya.
    Jika memakai Sriwijaya Centris kita akan menemukan Bukit Siguntang Mahameru, Dapunta Hyang, Sang Sapurbna dst
    Jika memakai Jambi Centris kita akan menemukan Tribhuana Mauli Marwadewa, Pinang Masak dst
    Sama halnya dengan Tambo Centris kita akan bertemu dengan Datuak Katumanggungan, Datuak Parpatiah Nan Sabatang dst.

    Kekacauan akan terjadi jika kita mulai menghubungkan sentral-sentral tersebut dan memaksakan sebuah konklusi tarikh, tokoh, ranji, silsilah dan kronologis. Contoh paling aktual adalah munculnya ranji tambo sbb:
    http://id.wikipedia.org/wiki/Tambo_Minangkabau

    Kira-kira metode analisa sejarah terpusat ini akan mirip dengan metode utak atik gathuk yang biasa dipakai orang Jawa.

    Analisa Sejarah Tersebar
    Konsep kedua, berusaha keluar dari kerangkeng sentris-sentris diatas. Ide utamanya adalah menginventarisir jejak-jejak sejarah yang bisa didapat dengan ilmu antropologi atau seni budaya. Banyak aspek yang bisa diteliti, dalam kasus saya, saya mencoba fokus masing-masing ke sistem matrilineal, konsep ketatanegaraan koto piliang bodo caniagao (yg mirip sparta-athena), konsep kepemimpinan, hasil budaya (ukiran, silek minang) dan segera menyusul lainnya.
    Walaupun terkesan mengambil kesimpulan terlebih dahulu namun yang saya lakukan sebenarnya adalah mencari jejak-jejak dari masing-masing aspek yang saya teliti tersebut di dunia luar (diluar Minangkabau).
    Hal ini saya lakukan karena jelas saya “tidak percaya dengan konsep turun dari Gunung Marapi”, namun pertanyaan saya selanjutnya kenapa koncep itu ada.
    Sama halnya soal tidak percayanya saya soal keturunan Iskandar Zulkarnain, namun saya membuat pertanyaan kenapa Iskandar Zulkarnain. Pada awalnya saya menebar pertanyaan-pertanyaan liar sbb :

    * Kenapa Gunung Marapi? (Kenapa bukan Gunung Kerinci, Gunung Ledang, Bukit Siguntang, Gunung Mahameru atau Gunung Semeru
    * Apakah telong nan batali itu ameh urai? (emas yang mengalir di sungai-sungai Sumatera Tengah)
    * Kenapa Harimau Campa? (Kenapa bukan Laksamana ChengHo atau Shih Huang Ti)
    * Kenapa Iskandar Zulkarnain? (Kenapa bukan Darius Agung, Nero atau Plato)
    * Kenapa Nagari? (Kenapa bukan kerajaan)
    * Kenapa Triumvirat (Rajo Tigo Selo)? Kenapa bukan raja diraja
    * Kenapa Matrilineal?

    Masing-masing pertanyaan berkembang menjadi penelitian-penelitian kecil yang melintasi zaman dan geografis, ia menghasilkan tarikh dan juga sebaran wilayah, dan setelah itu masing-masingnya kait-berkait secara otomatis.

    1. Dari Tambo saya kenal Cateri Bilang Pandai, Maharaja Diraja dan Indra Jalita
    2. Dari Tambo saya kenal Iskandar Zulkarnain
    3. Dari Tambo saya kenal Harimau Champa

    Nomor 1 dan Nomor 2 menghasilkan Hellenisme, Seni Budha Yunani, Kebudayaan Gandhara, Ukiran Gandhara dll
    Nomor 1 dan Nomor 3 menghasilkan Sistem Matrilineal
    Nomor (1&2) dan Nomor 3 menghasilkan sistem konfederasi di Champa
    dst dst, kait-berkait dan menghasilkan pertanyaan baru dan juga jawaban-jawaban, begitu seterusnya …

    Menjawab Pertanyaan Ibu Hifni

    Datuak Katumanggungan dan Datuak Parpatiah Nan Sabatang kita kenal silsilahnya dalam tambo. Kita juga tahu atributnya:

    – Datuak Katumanggungan seorang anak raja (keturunan bangsawan dari ibu dan bapak)
    – Datuak Parpatiah Nan Sabatang keturunan bangsawan dari ibu

    Dengan pola Analisa Sejarah Terpusat kita akan menemukan banyak sekali ragam pencocokan dengan centris-centris yang kita pilih, namun resikonya adalah benturan-benturan ketika menyusun konklusi. Salah satu hasil konklusi yang Majapahit Centris (di Minangkabau bermetamorfosa jadi Pagaruyung Centris) adalah seperti tulisan di postingan ibu tadi.

    Namun dalam konsep Analisa Sejarah Tersebar, saya menemukan hal-hal sebagai berikut:

    – Datuk Katumanggungan, adalah konseptor(?) dan sekaligus pewaris dari sistem ketatanegaraan aristokratis yang mirip dengan konsepsi negara versi Sparta, terinspirasi oleh nilai-nilai Hindu, cendrung kastaisme, suka dengan aturan-aturan yang tegas, setuju dengan konsep kerajaan
    – Datuk Parpatiah Nan Sabatang, adalah konseptor(?) dan sekaligus pewaris dari sistem ketatanegaraan demokratis yang mirip dengan konsepsi negara versi Athena, terinspirasi dengan ajaran Buddha (lihat filosofi motif Daun Bodi dan Teratai), lebih egaliter, suka dengan filsofi-filosofi, setuju dengan konsep federasi
    – Indra Jalita melambangkan orang yang bangsawan sekaligus ilmuwan
    – Cateri Bilang Pandai berkasta ksatria dan berprofesi seniman ulung di bidang seni rupa (ukiran, pahatan, lukisan)
    – Harimau Champa datang dari Champa yang juga menganut sistem nagari dan matrilineal

    Begitulah mozaik-mozaik yang saya temukan. Saya tidak terobsesi dengan siapa tokoh-tokoh tersebut secara nyata, karena akan menabrak fakta-fakta yang saya temukan tentang atribut-atribut mereka.

    Satu-satunya kesimpulan yang bisa saya ambil untuk saat ini adalah:

    * Mereka berasal dari Tanah Basa India
    * Mereka tahu tentang Iskandar Zulkarnain
    * Mereka membawa hasil seni budaya hellenisme
    * Mereka berasal dari golongan yang berbeda-beda (Hindu, Buddha, dll)
    * Mereka terpelajar dan punya konsep ketatanegaraan yang dibawa ke Minangkabau (dalam tambo disebut warisan Kitab Undang yang diwarisi oleh Sultan Maharaja Diraja)
    * Mereka menganut sistem kekerabatan Matrilineal yang jejaknya bisa ditemukan di Kerala, Karnataka (keduanya di India), Muangthai dan Champa (ini mengingatkan saya pada tokoh Kambing Hutan, Kucing Siam dan Harimau Champa yang berasal dari 3 daerah tadi)

    Kapan tahun eksaknya mereka datang saya tidak tahu, saya hanya punya rentang waktu antara abad awal masehi sampai dengan berdirinya kerajaan Kandis (Melayu Tua).
    Jika literatur Koto Alang menyebutkan bahwa duo datuk itu adalah warga Kerajaan Kandis dan Koto Alang, adalah cukup masuk akal secara tarikh, dan lebih logis ketimbang dikaitkan ke era Pamalayu, Singasari dan Majapahit.

    Jika Adityawarman dianggap pendiri Pagaruyung, maka agak sedikit ganjil jika dihubungkan dengan cerita Bundo Kanduang yang menjadi Rajo Parampuan di Pagaruyung yang berkonflik dengan Sungai Ngiang.
    Sungai Ngiang adalah Singingi di daerah Kuantan. Kerajaan Singingi ini masih sezaman dengan Kerajaan Kandis (sekitar abad 8 M).
    Dalam Cindua Mato telah berdiri kelengkapan pemerintahan berupa Basa Ampek Balai yang anggotanya adalah beberapa unsur dari Langgam Nan Tujuah, artinya Lareh Koto Piliang telah berdiri.
    Gajah Tongga Koto Piliang mengaku telah ada sebelum Pagaruyung ada. Kesimpulannya, latar cerita Cindua Mato adalah konflik antar kerajaan hulu dan hilir Batang Kuantan (Inderagiri) yang sezaman dengan Kandis (abad 8 M).
    Artinya Duo Datuak telah ada jauh sebelum masa itu (atau sezaman dengan masa itu)

    Wallahualam, demikian saja sedikit teori dari saya

    Wassalam,

    Zulfadli

    Referensi:
    http://www.e-dukasi.net/mol/mo_full.php?moid=109&fname=sej105_05.htm
    http://id.wikipedia.org/wiki/Tambo_Minangkabau

  5. Sejarah kerajaan2 di sumatera ataupun bangsa melayu selalu di kaitkan dengan tokoh Iskandar Zulkarnaen. Apakah tokoh Iskandar Zulkarnain ini adalah seperti yang diceritakan di dalam Al Qur’an?. Apakah benar Iskandar Zulkarnain yang dimaksud adalah Alexander Agung ?, karena identitas tokoh Iskandar Zulkarnain ini sampai saat sekarang masih kontroversial. Saya pernah menonton televisi asing dimana menceritakan tentang penelitian tentang siapa Iskandar Zulkarnain sesungguhnya, dan analisa dari film dokumenter tersebut menyatakan ada kemungkinan besar kalau Iskandar Zulkarnain tersebut sebenarnya lebih erat dengan dengan sosok Darius Agung dari Persia. Dan juga dari suatu buku yang berjudul “ya’juj wa ma’juj akan muncul dari Asia”, pengarangnya menganalisa kalau Iskandar Zulkarnain adalah Raja Akhenaton dari Mesir yang melakukan lawatan dari negeri tempat terbitnya matahari sampai ke negeri tempat terbenamnya matahari ( seperti yang termuat dalam Al Qur’an ) dengan melintasi jalur daerah khatulistiwa dari arah barat ke arah timur ( termasuk sumatera ) dan berakhir sampai di negeri China. Menurut hemat saya,kejelasan sosok ini sangat diperlukan karena menjadi latar belakang pemahaman kita tentang nilai2 dn peradaban bangsa2 melayu di sumatera apakah dipengaruhi oleh kebudayaan helenesia ( Alexander the great ), ataukah kebudayaan Persia ( Darius Agung ) atau Mesir ( raja Akhenaton yang monotheisme ). Terimakasih atas penjelasannya.

  6. Masih ada yang mau berusaha mambangkik batang tarandam…

  7. Sekedar info..Kandis yang abad ke 8 adalah kandis yang sudah berpusat di Dusun Tuo (Teluk Kuantan sekarang), sedangkan kandis yang hancur di awal terbentuknya Sriwijaya berpusat di Lubuk Jambi sekarang, yaitu di Bukit Bakar (saat ini sedang di lakukan penelitian di lokasi situs)

  8. Dt. Perpatih nan sabatang dan Dt. Ketemenggungan pada tahun 1348 M datang ke Kandis dan mengganti nama Kandis menjadi Kuantan dan sungai Keruh dia ganti namanya menjadi Sungai Kuantan (asal kata kuak-kan-tan), mereka mengadakan pertemuan di Balai Bukik Limpato inuman dengan tokoh masyarakat Kandis diantaranya Dt. Bandaro Lelo Budi, Dt. Simambang, dan Dt.Pobo, pertemuan itu menghasilkan bahwa Kuantan menjadi satu kenagorian yang termasuk dalam kerajaan Pagaruyung. Pagaruyung saat itu dipimpin oleh Adityawarman

    • Ridho Caniago Sutan Palimo Bandaro

      Kalau pada tahun 1348 M datuak2 tersebut masih ada, berarti umurnya diperkirakan sudah mencapai ratusan tahun kalau kita asumsi beliau2 datang pada masa kerj. Koto Alang..Apakah mungkin dan apakah ada bukti?

  9. memang betol masih banyak tanda tanya di alam melayu ini, saya sendiri masih ada keturunan dari teluk kuantan,dari bebrapa silsilah di siak ini.yang menjadi tanda tanya kesan sekarang adalah mengapa orang minang jarang/malah tak ada menyebut dirinya orang melayu.setau saya orang melayu menggunakan dua adat besar.adat patrilineal dan matrilineal.ada kuat dugaan matrlineal ini pengaruh kebudayaan hindu.dan di dalam kisah orang tua2 kami maaf jika sedikit menyinggung krn kita cuma membuka kisah.adat matrilineal adalah adat org bukan diraja(krn ibu berketurunan raja sedang ayah org luar /bukan diraja) menginngat bisa jadi adanya ekspansi kertanegara ke bumi melayu(ekspedisi pamalayu).kemungkinan besar raja dari tanah jawa memperistri orang melayu jadi utk menghilangkan pengaruh itu kekuasaan adat diberikan ke garis ibu.memang kalau di tempat saya di Rokan(istri saya dr rokan).adat matrlineal dipakai org biasa.klu patrilineal golongan para raja.cuma satu yg masih sedikit terbersit di hati saya.dan saya sebagai org melayu merasa sedikit agak terasa kenapa org minang sulit menyebut dirinya melayu????

    • Wan Batamasya Sutan Sati

      Sungguh sebuah analisa yang “tulus” kalau melihat komentar ini. Saya memberikan dua definisi uraiannya.

      1. Kenapa Orang Minang jarang / tidak mau mengakui dirinya orang Melayu?
      ” pendapat saya, peng-istilahan Melayu itu sendiri lebih mengerucut pada sebuah Bangsa, di daerah Riau atau di kepulauan Riau mereka menyebut diri mereka ( Pribumi) orang Melayu, namun ketika lebih spesific mereka menerangkan bahwa mereka adalah dari Suku tertentu, banjar, bugis, dll.”
      Ketika orang Minang ditanya, ” anda Orang mana?” Jawaban lebih spesifik akan Muncul, saya orang minang, yang secara artifisial menerangkan dari kelompok Masyarakat Adat yang menganut “kinship lineal” menurut garis Ibu. Ketika mereka menjawab, saya orang Melayu? Pertanyaan berikutnya akan mudah muncul, Suku Apa dsb. Melayu sekali lagi adalh, Ras/race. Pertanyaan saya adalh, seumpama di Daerah Riau atau kepulauan Riau, ketika mereka menyebut diri mereka Melayu, suku apa saja yang berhak menyandang itu? Di pesisir kepulauan Riau banyak suku Bugis, banjar, Minang dll. Upacara atau kelembagaan adat terbentuk menurut tradisi kerajaan terakhir dan terwarisi. Coba anda bayangkan kalau seandainya tradisi serta system kerajaan siak masih di pakai sampai sekarang, and cukup takjub bahwa itu lebih banyak di adopsi dari abang tuanya di Pagarruyung. Kalau tidak diserahkan ke RI, mungkin anda sendiri yang dari Siak akan bilang bahwa anda dari Minang. Silahkan di baca perbedaan antara Koto Piliang dan Bodi chaniago. Sebuah penyelsaian retorika ber strata sosial yang sangat menakjubkan.

      2. Minangkabau sendiri kita mengenal, bahwa adat itu dipakai untuk masyarakat itu sendiri dan system yang sudah terbentuk tidak dipengaruhi oleh Sebuah pemerintahan yang ada. Adityawarman datang menjadi raja, system Matrilinial di masyarakat minang tidak berobah, Raja boleh ke anak, namun adat ke kemenakan. Struktur yang sangat jelas, terang serta ” tak lekang dek paneh”
      Pengaruh Hindu sangat kuat dikalangan Raja2 yang menerapkan Kasta untuk mempertahankan Gelar serta sebutan adalah pengaruh kasta terselubung, warisan Hinduism namun toh nyatanya ampuh untuk menunjukkan masyarakat kita lebih senang bahwa kedududkannya lebih tinggi dari yang lain.
      Matrilineal lebih bermakna ekonomis dan ampuh untuk menekan kesewenangan Laki2 yang cendrung berkuasa. Sytem mateilineal minangkabau adalah matrilineal yang Islamis. Adat bersandi sara’, sara’ bersandi kitabullah.
      Pemahaman saudara terhadap Matrilineal harus lebih sedikit terarah dan banyak saduran serta terupdate. Jangan ikut cakap orang tua saja.
      Minangkabau adalah sebuat Adat Alam, dimana nya itu mereka, akan tetap menyebut diri mereka Orang Minang yang demokratis serta kritis.

      Semoga bermanfaat

    • Maaf saya ingin menanggapi yaa….Adat Parilineal di Minangkabau lebih merujuk kpd sistem Dt. Katumangguangan aau adat be-raja2, di Malaysia dikenal sebagai Adat Tok Menggong, Lingkungan Istana Pagaruyuang sebagai pusat (Rajo Alam) menganut sistem ini, dikeluarga istana ini TIDAK mengenal adanya pewarisan suku dari Ibu ke anak dan pewarisan gelar adat (gelar pusako ) dari Ninik Mamak ke Kemenakan, Adat ini berlaku diseluruh istana yg bernaung dibawah Istano Basa Rajo Alam Pagaruyuang termasuk Istano Sri Menanti Seremban Negeri Sembilan. Sementara di level kawula rakyat diberlakukan sistem Dt Parpatiah nan Sabatang, di Malaysia disebut Adat Tok Pateh. Dlm sistem ini memang matrilineal, mewarisakan suku dari ibu kepada anak dan gelar adat (gelar pusako) suku masing2 dari ninik mamak kepada kemanakan, wasalam, abp

  10. menjawab udin malay riau: org minang sulit menyebut dirinya melayu berdasarkan alasan psikologis dan sejarah dan politis, melayu saat ini diidentikkan dengan lingga (singapura-johor) yang secara bahasa beda jauh dgn bhs minangkampau atau riau daratan, lingga secara sejarah memakai org jauh (bugis) untuk memerangi saudara sendiri, lingga saat ini mendominasi budaya dan pemerintahan, sehingga budaya minangkampau jarang sekali ditampilkan sebagai simbol melayu, sehingga jika org minang mengaku melayu, maka akan ada subordinansi, org minangkampau tidak perlu mengaku sebagai org melayu, karena hakikat melayu adalah minangkampau itu sendiri.
    Bukti hal ini adalah kerajaan tertua di indonesia adalah dr wilayah minangkampau (kandis) dan sistem pemerintahan purba indonesia adalah keratuan, kerajaan tertua dijawa juga diperintah ratu.

  11. Ridho Caniago Sutan Palimo Bandaro

    Apakah ada hubungan antara kerj. Koto Alang/Kandis terhadap kerj. Minanga yang berada di hulu sungai batang Hari? Trima kasih atas penjelasannya.

  12. blog ini menyesatkan.. peningalan diatas hanyalah beberapa penggalan dari peninggalan kerajaan melayu tua dulu yg berpusat di pedalaman yaitu damasraya. kerajaan besar pasti memiliki wakil2 spt gubernur pada zaman sekarg. begitu juga yg ada di kuantan.

    jgn dikira di kuantn ada candi dan peninggalan kerajaan trus dikarang cerita disana asal muasal kerajaan pagaruyung yg pda akhirnya menyimpulkan kebudayaan kuantan lbh tua dari kebudayaan minang dan berujung pengakuan org kuantan sbg melayu. bodoh kau..

    di pasaman juga ada peninggalan candi, di daerah padang lawas (pemekaran Kab.Tapanuli selatan jg ada candi. jd mentg2 ada candi bisa saja mereka bikn cerita spt kamu dan bilang peradapan mereka tertua.

    satu lg., jk kerajaan kandis yg kamu maksud terletak di kandis yg masuk Kab.siak skrg maka itu suatu kebodohan. bagaimana mungkin kampung asli orang sakai kamu katakan t4 kerajaan melayu. coba kamu tanyakan sm org sakai asli kandis disana bagai mana daerah mereka itu dulu. mereka aja org sakai mengaku bersultan ke siak… eitsss itu bukan jmn dahulu kala ya jgn pula kmu sangkut pautkan. itu baru pada masa ekspansi siak di riau dan sekitar sampai ke deli.

    jd jgn ngarang cerita ngawur lh kamu wahai pemilik blok..

    • ga usah kasar dan tendensius gitulah, ngatain orang bodoh dan menyesatkan, macam orang tak beradat saja kau.
      diatas kan sudah dicantumkan sumber tulisan ini dari mana, kalau mau protes, protes ke sumbernya.
      kalau mau kritik tulisan saya, kritik yang ada di blok hipotesa, kompilasi dan proto hipotesa yang ada di daftar isi. itu baru pendapat dan tulisan saya.

      • yg komen “bodoh“ tu emg gak punya adat dan etika kok bro..apalagi mengerti dan mencari sejarah bro…bisanya cuman menghujat saja

  13. —–Original Message—–
    From: Datuk Endang
    Date: Mon, 30 Nov 2009 05:13:35
    To:
    Cc:
    Subject: […@ntau-net] Re: Minang di tanah Melayu…Melayunisasi???

    Sanak Bot yth.
    Memang efek dari otonomi daerah adalah mencuatnya kebutuhan simbol/lambang di
    berbagai daerah, di seluruh penjuru tanah air. Berbagai upaya dilakukan,
    misalnya menggali kesejarahan dll. Beberapa bulan lalu saya ke Pekanbaru, dan
    melihat telah banyak upaya untuk itu, seperti pembangunan huge structures, dan
    atap tradisional itu. Mengenai disain atap itu (lontiak : pasak atap?) saya
    sudah mendapat penjelasan dari arsitek2 lokal kalau itu diangkat dari satu
    disain rumah di suatu daerah. Sebenarnya saya punya kritik terhadap konsep atap
    itu, dan mereka memahaminya. Di antaranya adalah bila dikembangkan dalam ukuran
    besar, malah kesannya tidak tipikal bangunan untuk dataran rendah. Termasuk
    kayu bersilang V, sangat mirip dengan rumah Bugis. Sebenarnya arsitektur asli
    Melayu pesisir timur seharusnya hampir serupa. Kelompok terbesar dapat dilihat
    pesisir timur Sumut. Jadi sebenarnya perlu penggalian lebih lanjut.
    Saya kurang tahu perkembangan dunsanak kita di Kampar, Kuantan, dll; apakah di
    tempat itu juga dikembangkan rumah-rumah bagonjong. Bila ada, secara pribadi
    saya tidak keberatan bila diangkat juga arsitektur bagonjong itu untuk
    identitas/lambang bagi bangunan-bangunan di Riau.

    Wassalam,
    -datuk endang

    — On Mon, 11/30/09, Bot S Piliang wrote:

    Sdr Harismanto, atau Anto…Kok ambo indak salah…batetangga kito di
    pagambiran ndak…heheh

    Uda/Uni/Mamak jo Etek2 ambo dan Milist…

    Agak gembira saya mendengar koment dari Bapak/Ibu yang berdomisili di RIAU.
    Artinya selentingan mungkin hanya kekecewaaan satu atau dua pihak saja. Untuk
    kota Pekanbaru yang heterogen saya rasa masalah etnis ini tidak masalah. Karena
    masing-masing sudah punya jalur dan jatahnya masing-masing.

    Akan tetapi, pada situs pemda riau, dan beberapa tulisan, terdapat istilah
    “Melayunisasi Kultural”, khususnya untuk daerah Kampar, Kuansing dan
    daerah-daerah di perbatasan dengan SUMBAR. Entah apa yang dimaksud dengan
    Melayunisasi Kultural ini.
    Seperti email saya terdahulu, pada saat saya mengunjungi lapangan MTQ di
    Pekanbaru dimana disana terdapat replika rumah2 adat di Prov Riau, khusus di
    Rumah Lontiak Bangkinang, ditambahkan kayu bersilang khas melayu di kedua ujung
    lancip.

    Kemudian saya membaca situs sejarah KUANSING, http://www.sungaikuantan.com , dimana
    disana juga semacam pengingkaran keterkaitan sejarah teluk kuantan dengan
    Minangkabau. Bahkan di situs ini juga ‘memaksakan’ bahwa mereka merupakan
    bagian dari Melayu (meskipun bahasa, rumah adat dan budaya nyata-nyata 90%
    identik dengan budaya minang).

    Apakah ini yang dimaksud Melayunisasi Kultural…Berbeda dengan Kerinci yang
    meskipun masuk dalam prov Jami, namun masih merasa satu keluarga besar dengan
    Minangkabau. Karena Minangkabau ini adalah sebuah konsep kesatuan budaya yang
    jauh melewati batas-batas teritori edministratif sumatera barat.

  14. Blog biasa ga bisa di jdikan acuan….

    • ridho sutan palimo bandaro

      apa maksudnya blog biasa? Walaupun blog keliatan luar biasa tapi isinya ngawur,ga jelas sama aja dgn nol..blog mozaikminang ini pribadi menambah pengetahuan saya ttg minang..

  15. hmmmm..siak sebelum siak sekarang sudah ada..yaitu zamanya majapahit..lihat negarakertagama…so kandis,kampar,kuantan,rokan,bilah,,,dan bagmana pula adat tua matrilineal di champa? di langkasuka(selatan thai)? ini periode pra sriwijaya lho? dan riwayat sulalatus alatin juga meniriatkan adat matrilineal hindu bgmn ini pula apakah ada kaitanya?

  16. Sutan Indra Kesuma Oesman glr Sutan Suri Dirajo

    Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
    Alhamdulillah bahwa pada kesempatan yang berbahagia ini kita masih diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk membaca, menyimak, merenungkan serta menulis dengan hati jernih. Dan dengan segala kerendahan hati kita sampaisaudarakan salawat kepada nabi besar kita yang mulia Rasulullah Muhammad SAW, amien.

    Saya tidak bermaksud untuk menggurui diantara saudara-saudaraku seiman yang telah saling mencaci satu dengan yang lainnya. Menurut ajaran Melayu dan Minangkabau yang diungkapkan dalam petatah petitih orang tua dan nenek moyang kita, saya tidak menemukan satu kalimatpun mengenai ajaran caci mencaci sesama manusia. Kedua kebudayaan ini (Melayu dan Minangkabau) merupakan kebudayaan yang cukup tua dan agung yang mengutamakan kehalusan, santun beradab dan mengutamakan keluhuran budi pekerti dalam menyampaikan pendapat. Oleh karena itu saya bangga sebagai keturunan dari dua kebudayaan besar ini.

    Mungkin yang membaca atau mengemukakan pendapat ini adalah juga masih sedarah dengan saya, wallahualam. Jika ditarik ke atas sampai dengan 11 tingkatan kira-kira pertengahan abad XVII (tahun 1650), Tuanku Raja Pandak yang Dipertuan di Kuantan (maksudnya bukan Tuanku Raja Pandak yang bergelar Tuanku nan Sakti abad XX, tahun 1901 dst) beristrikan seorang Puti (Putri) dari Minangkabau yang kemudian mempunyai anak perempuan bernama Puti Cahaya Korong. Kemudian Puti Cahaya Korong ini kawin dengan Sutan Bandaro yang Dipertuan di Lubuak Tarok (lebih kurang 70 km dari Kuantan) yang kemudian menurunkan raja-raja di kedua daerah tersebut.

    Jika masih ingat dalam Negara Kertagama bahwa Majapahit dua kali berusaha menaklukkan negeri Minangkabau, Dharmasraya (awal abad XIV dan awal XV) dengan sandi Pamalayu namun keduanya gagal. Dari istilah ini, jika kita mau berpikir jernih maka pihak Jawa sebenarnya telah mengakui bahwa Minangkabau adalah identik dengan Melayu. Demikian pula jika melihat pada sejarah pengadilan Nederland Indie di Sumatera maka setiap orang Minangkabau ataupun Melayu dianggap sebagai bersuku “Melayu” (Maleyers), lebih jauh lagi nenek moyang bangsa Indonesiadilihat dari cara berimigrasinya terdapat dua kelompok besar masing-masing disebut Melayu Tua (Nias, Batak, Toraja dll) dan Melayu Muda(Minangkabau, Riau, Jambi, Palembang, Bengkulu, Aceh Tamiang dll). Lain halnya di Malaysia, seseorang dianggapsebagai puak Melayu jika beragama Islam. Buktinya seorang laki-laki Cina akan menjadi Melayu bila dia kawin dengan seorang perempuan Islam Melayu, dia harus masuk agama Islam dan diberikan bin Abdullah di belakang namanya.

    Jadi kesimpulan saya, marilah kita bekerjasama mencari kebenaran tanpa menjelekkan satu dengan yang lainnya sebab sejarah telah mencatat bahwa Riau, Minangkabau, Jambi dan Bengkulu pernah menjadi satu propinsi yang disebut sebagai Sumatra Tengah. Namun pada akhir decade 1950-an, pemerintah pusat telah memecahnya menjadi empat propinsi.

    Salam kompak.

  17. sutan indra kusuma..saya rasa itu amat bijak…

  18. pak sutab..tepatnya tu..jambi-riau-kepri-sumatra barat..heheh termasuk dalam propinsi sumatra tengah tp kalau dalam kitab negara kertagama udah jelas seluruh pulau sumatra disebut melayu atau malayu atau moloyou

  19. sebuah input yg bagus, pak sutan juga betul karena dia mengambil dari terbentuknya propinsi sumbagteng sebelum dipecah…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *