Home / Sejarah Minangkabau / Sejarah Abad 19 / Etnokultural Melayu Deli

Etnokultural Melayu Deli

Suku bangsa melayu pesisir sumatera timur berdiam di propinsi sumatera bagian utara sebelah timur daerahnya menjulur dari dataran pantai timur hingga sampai dataran berbukit-bukit mulai dari daerah aceh timur langkat, deli, serdang, sampai daerah labuhan batu, sepanjang 280 km dari barat laut ketenggara. lebar dataran sebelah utara rata2 adalah 30 km dan lebar dataran disebelah selatan kira2 100 km disinilah terdapat kota Deli, yaitu daerah melayu sumatera timur. secara astronomis kota Deli terletak pada 3°43” lintang utara dan 98°38” bujur timur.

Kota Deli merupakan kota kerajaan, dalam kehidupan kerajaan tersebut dipimpin oleh seorang raja, kota tersebut dihuni oleh masyarakat bersuku melayu hidup dengan adat-adat yang berkembang dari tradisi, bentuk kehidupan serta tradisi tersebut telah berlangsung semenjak abad ke 16.

Secara definitif yang di maksud dengan suku melayu adalah golongan yang menyatukan diri dalam perbauran perkawinan antar suku bangsa serta memakai adat resam dan bahasa melayu secara sadar dan berkelanjutan. tidak ada pembatasan khalayak yang di kategorikan dalam suku bangsa melayu karena ketika terjadi perkawinan antar bangsa dan mereka secara resam dan menerapkan pengaplikasian bahasa melayu maka mereka dimasukan dalam kategori bangsa melayu.

Sedangkan masyarakat melayu Deli adalah masyarakat yang dimulai dari perjalanan seorang anak raja dari negri hindustan yang menganut agama islam dan hidup turun temurun didaerah pesisir pantai timur sumatera utara hal tersebut dapat kita baca dalam hikayat Deli yang masih kita dapati sampai sekarang “Mendekati tahun 1580 sebuah kapal karam dilanda oleh badai di selat malaka diperairan kerajaan pasai aceh, kapal dan seluruh awak tenggelam kedalam laut terkecuali kapten kapal yang memimpin pelayaran tersebut dia terdampar kepantai , orangnya hitam tegak, berwibawa, turunan seorang anak raja yang menganut agama islam dari tanah Hindustan, Deli Akbar, dia bernama Muhammad Derikan (Tuanku Muhammad Delik). Ketika ditemukan dia mengaku sebagai turunan seorang raja dari seberang lautan, maka derikan di bawa oleh wali negri pasai menghadap sultan aceh mansyur gelar sultan Alauddin Mansyursyah (1579-1586).

Setelah menghadap kepada sultan mansyur, Derikan dihadapkan kepada beberapa ujian layaknya keturunan raja untuk memastikan dia merupakan sebenarnya turunan raja yaitu adat-adat raja, siasat ilmu perang dan ilmu kebathinan.dilanjutkan dengan beberapa titah sultan yang muncul dengan keadaan tiba-tiba, diantaranya menangkap orang gila yang mengamuk pada saat itu yang menyebabkan jatuhnya banyak korban di masyarakat serta menangkap para perampok yang menghadang pada pintu masuk darussalam. Derikan berhasil melaksanakan titah raja tersebut, sehingga untuk jasanya itu dia dianugrahi jabatan panglima dengan gelar panglima lebai hitam, dialah nenek moyang sultan deli turun temurun.

Bentuk budaya yang beralokasi di pesir timur sumatera utara adalah budaya melayu yang dalam artian bahwa setiap orang harus me-la-yu kan sikapnya bukan sikap yang keras akan tetapi menerapkan sikap adab dan budi yang merendahkan diri sendiri dengan sengaja jika manusia melayu tidak bersikap seperti itu maka mereka akan di bilang tidak beradat dan tak tahu basa. Ada lima falsafah yang dipegang oleh masyarakat melayu yaitu;

  1. melayu itu islam yaitu mempunyai sifat yang universal, demokrasi dan bermufakat.
  2. melayu itu berbudaya (nasional) dalam bahasa sastra tari pakaian, terlihat dalam tingkah laku.
  3. melayu itu beradat bersifat regional dalam konten Bhineka Tunggal Ika dengan tepung tawar, balai pulut kuning yang mengikat tua dan muda.
  4. melayu itu berturai dalam artian tersusun dalam masyarakat yang rukun dan tertib (social-orde). maksudnya “keadilan terhadap setiap orang dan dilaksanakan secara tertib, orang yang teradministrasi dalam segala aspek kehidupan, orang yang mempunyai jalur dalam ketentuan serta setiap kebijakan dalam kehidupannya pribadi atau adat”, mengutamakan ketentraman serta kerukunan hidup berdampingan dengan sikap harga-menghargai bebas dengan keterikatan dalam masyarakat.
  5. Melayu itu berilmu dalam pribadinya dan mengarahkan hidupnya pada ilmu pengetahuan dan ilmu kebathinan agar bermarwah dan disegani oleh orang lain ditujukan untuk kepentingan umum.

Melayu Deli menggunakan bahasa pergaulan melayu dan pasai, yang mana sekarang bahasa tersebut berkembang menjadi bahasa Indonesia dengan paramasastra dengan langgam yang dikristalisasi, dulu bahasa melayu yang digunakan dalam harian tanpa aturan disebut sebagai bahasa pekan yaitu bahasa yang digunakan sehari-hari oleh anak yang bukan asli daerah pesisir (keling pekan; keling ayahnya melayu ibunya: melayu pekan)

Bahasa melayu sendiri terdapat lapisan-lapisannya ada lapisan atas yang digunakan oleh para bangsawan, dan bahasa harian yang digunakan harian dikampung-kampung disebut dengan bahasa kampung dan bahasa ini memakai logatnya masing-masing.

Dinegri Deli melayu pesisir timur sumatera utara islam merupakan agama yang telah dijadikan agama dasar dapat diketahui bahwa panglima Derik yang besar dinegri pasai adalah penganut agama islam dari awalnya, sehingga dalam masyarakat negri itu kita akan mendengar slogan “melayu Deli itu islam”, masyarakat melayu secara umum menjadikan islam sebagai agama ibu dalam adat mereka, islam yang berkembang disana adalah islam yang bermahzabkan syafee’i. pengaruh agama dalam kehidupan masyarakat melayu sangat besar sekali baik untuk ketentuan pribadinya sendiri ataupun yang berhubungan dengan ketentuan yang dengan masyarakatnya. Perubahan agama dari animisme ke hindu, hindu ke budha dan budha ke islam tidak terjadi begitu saja di melayu, mereka melakukan uji kelayakan terhadap agama yang baru tersebut setelah mengambil keputusan dengan sukarela, jiwa dan raganya diserahkan untuk agama itu.

Dari data yang telah dikumpulkan kita dapat melihat bahwa masyarakat kesultanan deli merupakan masyarakat yang menerapkan azaz–azaz ajaran islam, baik dalam kehidupan pribadi bahkan hukum adat yang mereka pakai untuk budaya mereka, sehingga secara artefaktual kita dapat melihat jejak penerapannya itu. Diantaranya simbol dari kerajaanya sendiri, serta pola pembangunan kotanya juga mempunyai rangkaian ritual islam. Data tersebut dapat kita kita telusuri melalui hikayat – hikayat melayu Deli “Pada masa itu imam dan khatib ikut mentahlilkan, meratibkan serta mendoakan untuk menolak bala dan untuk mendatangkan rejeki terhadap rumah dan kota” Hal–hal tersebut muncul dan berlaku karena keinginan serta motifasi manusia terhadap tempat pemukiman mereka, motifasi tersebut adalah Aktualisasi diri (self actualization needs atau self fulfillment needs) terhadap lingkungan serta latar belakang kehidupan, ada pun hal yang diaktualisasi dalam kehidupan masyarakat itu adalah;

n Harga diri, kehormatan, ego (esteem needs atau ego needs)

n Kebutuhan sosial (social needs atau belongingness needs)

n Rasa aman (safety needs atau security needs)

n Kebutuhan fisiologis (physiological needs atau survival needs).

Hal inilah yang memunculkan serta penggunaan / terapan ajaran islam dalam kehidupan masyarakat Deli dalam kebutuhannya terhadap pembangunan kota kerajaan melayu Deli.

Dari yang kita ketahui bahwa muhammad delikan yang terdampar dipantai kerajaan pasai telah diterima dan diangkat sebagai seorang panglima. Semenjak terjadi pembrontakan panglima derik ikut dengan sultan aceh mansyur untuk menyelamatkan diri semenjak itu derikanpun hidup bersama dengan keluarga kerajaan pasai dia menikah dan mendapatkan keturunan dan anaknya mendirikan kerjaan di pesisi pantai timur sumatera utara.

Teuku gojah pahlawan anak dari panglima derikan yang mendirikan kerajaan deli dan bertahan sampai sekarang islam merupakan agam yang telah menjadi agama awal mula munculnya generasi-generasi masyarakat kerajaan pasai sehingga bentuk dari kebduayaan kerjaan deli sendiri banyak berlandaskan islam walaupun didalam melayu sendiri banyak sukubangsa yang terikat akan tetapi segala hal tersebut dilandasi akan rasa sukarela untuk memeluk agama islam.

Sampai sekarang kita mengetahui bahwa ajaran islam di Deli sangat kental, dan dalam kehidupan sehari-hari, mereka sangat terikat dengan slogan melayu deli adalah islam pengaruh dasar bentuk agama yang berkembang dari satu orang moyang masyarakat deli sangat berdampak terhadap ketahanan atas budayanya sampai sekarang.

About minangheritage

Minangkabau Heritage adalah sebuah gerakan konservasi Warisan Budaya Minangkabau yang berangkat dari kesadaran akan perlunya portal open data dengan sumber terbuka yang bertemakan Kebudayaan Minangkabau. Proyek ini diselenggarakan secara gotong royong baik dari sisi teknis, penyuntingan naskah dan pelbagai kegiatan lainnya. Saat ini ada 3 Sub Tema besar yang sedang dikerjakan yaitu : Sejarah Minangkabau, Budaya Minangkabau, Warisan Minangkabau. Ingin berpartisipasi ? Silahkan kirim file, naskah, dokumen anda melalui menu yang tersedia atau kiri email beserta lampiranya ke [email protected]

Check Also

Pauh: Nagari Angin

Tidak banyak informasi mengenai Pauh yang saat sekarang merupakan bagian wilayah kecamatan dari kota Padang. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *